Dalam dua dimensi ini, Petrus menjadi pemegang otorita tertinggi untuk membangun dan mempertahankan unitas atau persekutuan dan persatuan Gereja. Dia adalah Tiang utama atau batu penjuru yang mengikat satu semua elemen atau komponen Gereja, sehingga Gereja tidak terpecah belah dan tercerai berai. Mandat ini dia terima dari Kristus sendiri sebagaimana kita dengar dalam Injil hari ini: “Engkau adalah Petrus, dan di atas batu karang ini, Aku akan mendirikan Jemaat-Ku, dan alamat maut tidak akan menguasainya. “Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Surga” (Mat 16: 18-19).
Petrus adalah wadas atau batu karang yang kokoh kuat, tahan angin dan badai. Dia wadas yang tahan guncangan dan tahan banting. Inilah kedudukan Paus sepanjang zaman di Roma yang berjalan mantap dari zaman ke zaman sampai sekarang. Posisi atau jabatan ini sekarang berada dalam diri Paus Fransikus.
Sedangkan Paulus adalah penggerak atau pelopor misi ad extra atau misa keluar. Dialah adalah seorang misionaris ulung yang berjalan tanpa kenal lelah untuk mewartakan Injil dan untuk memperluas Kerajaan Allah kepada segala bangsa di seluruh dunia, mulai dari wilayah-wilayah berbahasa Yunani. Misi ini lahir dari perintah Kristus sendiri: “Pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus” (Mat 28: 19). Ia melakukan misi ini dengan mencurahkan darahnya “sampai garis akhir” (2Tim 4: 7).
Dari perayaan dua Rasul besar ini, ada dua pesan bagi kita
Pertama, hendaklah kita sebagai orang katolik memelihara dan mempertahankan persatuan dan kesatuan di dalam Gereja, mulai dari lingkungan paling bawah keluarga, wilayah, paroki dan keuskupan sampai tingkat paling atas, yaitu dengan Paus pengganti Petrus di Roma. Ikatan persatuan dan kesatuan ini tidak boleh putus melalui loyalitas atau kepatuhan iman, harap dan kasih kepada Tuhan dan kepada Gereja-Nya yang satu, kudus, katolik dan apostolik.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel




