Pastoral Diakonia dalam Semangat Jalan Bersama

Pastoral Diakonia
Sinode IV Keuskupan Ruteng di Wae Lengkas

Di sisi lain, banyak anggota keluarga harus bermigrasi ke Kalimantan, Papua, dan berbagai daerah lain untuk mencari nafkah. Mereka meninggalkan keluarga demi mempertahankan kehidupan. Akibatnya, tidak sedikit anak yang tumbuh tanpa kehadiran ayah atau ibu pada masa-masa penting perkembangan fisik, mental, emosional, dan spiritual mereka.

Fakta lain yang tidak boleh diabaikan adalah semakin banyak keluarga yang menjual tanahnya karena tekanan ekonomi. Padahal tanah bukan hanya aset ekonomi, tetapi juga warisan leluhur, identitas keluarga, dan jaminan masa depan generasi berikutnya. Kita juga masih menemukan rumah-rumah yang dindingnya keropos, keluarga yang hidup dalam keterbatasan, serta umat yang berjuang sendiri menghadapi berbagai persoalan hidup.

Selain itu, masih ada saudara-saudari kita yang semakin jarang mengikuti perayaan Ekaristi dan kehidupan menggereja. Padahal gereja yang dibangun dengan doa, pengorbanan, dan kerja keras umat seakan menanti dan merindukan kehadiran anak-anaknya dalam setiap perayaan Ekaristi. Situasi ini menjadi tanda bahwa pelayanan pastoral perlu semakin menyentuh kehidupan nyata umat.

Sebagai Gereja, kita tidak boleh tinggal diam menghadapi kenyataan tersebut. Persoalan-persoalan ini harus menjadi perhatian utama pelayanan pastoral di tingkat keluarga, Komunitas Basis Gerejani (KBG), stasi, dan paroki. Diakonia yang merupakan jantung pelayanan Gereja harus diwujudkan dalam tindakan nyata yang menjawab kebutuhan umat. Jika Gereja gagal mendampingi mereka yang menderita, maka Gereja akan semakin jauh dari panggilannya sebagai tanda harapan dan terang Kristus bagi dunia.

Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel