Dengan demikian, diakonia bukan sekadar kegiatan sosial atau aksi kemanusiaan, melainkan perwujudan iman dan partisipasi dalam misi Kristus yang datang untuk menghadirkan keselamatan, membela martabat manusia, dan membawa harapan bagi mereka yang menderita.
Panggilan ini menjadi semakin penting ketika kita melihat realitas yang dihadapi umat saat ini. Sekitar 65.000 saudara-saudari kita masih hidup dalam kemiskinan. Kemiskinan yang dialami banyak keluarga bukan semata-mata akibat kelemahan pribadi, tetapi juga berkaitan dengan terbatasnya akses terhadap pendidikan, lapangan kerja, pasar, modal usaha, dan berbagai peluang pembangunan.
Kondisi tersebut membuat banyak keluarga rentan terhadap berbagai persoalan sosial seperti perjudian online, kebiasaan berutang, pinjaman online tanpa literasi keuangan yang memadai, serta penjualan tanah produktif untuk memenuhi kebutuhan hidup jangka pendek. Situasi ini sering kali menjerat keluarga dalam lingkaran kemiskinan yang sulit diputus.
Dampak dari persoalan tersebut semakin nyata dalam kehidupan masyarakat. Berdasarkan hasil pendataan Yayasan Ayo Indonesia tahun 2025, sekitar 900 orang mengalami gangguan kesehatan mental. Data Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Kabupaten Manggarai tahun 2025 mencatat sekitar 430 kasus kekerasan dalam rumah tangga yang terjadi dalam lima tahun terakhir.
Sementara itu, data Komisi Penanggulangan AIDS Daerah (KPAD) Manggarai tahun 2025 menunjukkan sekitar 540 kasus HIV/AIDS yang tercatat dalam kurun waktu dua belas tahun terakhir. Angka ini kemungkinan belum menggambarkan kondisi yang sebenarnya karena HIV/AIDS sering disebut sebagai fenomena gunung es. Banyak kasus yang belum terdeteksi atau belum dilaporkan karena keterbatasan akses pemeriksaan, rendahnya kesadaran untuk melakukan tes, serta masih kuatnya stigma terhadap Orang dengan HIV/AIDS (ODHA).
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel











