Sayangnya, klarifikasi tersebut kerap terlambat hadir ketika narasi “penghapusan” telanjur viral di ruang publik. Negara terlambat memberikan pencerahan, sementara arus informasi di media bergerak jauh lebih cepat.
Refleksi: Jangan Jadikan Karakter Sebagai Projek Musiman
Refleksi mendalam dari transisi ini seharusnya bukan sekadar memperdebatkan perubahan dari 6 menjadi 8 dimensi. Evaluasi yang paling jujur harus diarahkan pada akar persoalan: mengapa format yang lama kerap menghadapi kendala di lapangan?
P5 di banyak sekolah tidak gagal karena namanya buruk, melainkan karena implementasinya kerap bergeser menjadi beban administratif. Projek yang sejatinya dirancang untuk menumbuhkan karakter siswa terkadang berubah wujud menjadi ajang pemonitoran atau pameran seremonial yang membebani orang tua. Laporan yang menuntut kejujuran proses kerap bergeser menjadi sekadar pemenuhan dokumen visual yang estetis. Guru yang seharusnya fokus mendampingi murid justru tersita waktunya untuk mengejar target format pelaporan.
Apabila 8 Dimensi Profil Lulusan kelak diimplementasikan dengan pola yang berulang—hanya mengganti nama projek menjadi kokurikuler, mengganti istilah koordinator P5 menjadi koordinator PBP—maka siklus pergantian nama ini akan berulang kembali dalam tiga tahun ke depan. Guru-guru pun akan kembali mengajukan pertanyaan klasik dengan nada ragu: “Apakah metode ini masih boleh digunakan?”
Pancasila tidak memerlukan label baru setiap lima tahun. Nilai-nilai dasarnya telah kokoh sejak 1945. Yang paling dibutuhkan saat ini adalah keberanian kolektif untuk memastikan pendidikan karakter tidak direduksi menjadi sekadar projek musiman.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel











