Mental Baja, Pantang Menyerah

Narasi Manipulatif

Demikian juga dalam praktek politik kontemporer. Politisi sekoalisi di pemerintahan, atau bahkan teman separtai pun bisa jadi lawan, yang harus disingkirkan atau dimatikan karier politiknya.

Tidak jarang pula, lawan politik disandera. Lalu si politisi diberi pilihan yang sangat dilematis. Mengikuti seluruh kehendak si pemegang kekuasaan, atau menghadapi proses hukum yang pasti tidak adil, untuk kemudian dijebloskan ke penjara.

Di mata politisi yang pantang menyerah, berlaku adagium: Tidak ada kawan yang abadi, yang abadi adalah kepentingan. Mereka rela mengorbankan apa saja, asal kehendak atau kepentingan mereka terwujud.

Kecerdikan atau akal bulus didewakan, cinta kasih pada sesama dikorbankan. Sembah bakti pada orangtua pun dapat ditiadakan jika hal itu dapat menghalangi pencapaian tujuan.

Bagi politisi bermental baja pantang menyerah, mereka tidak menghargai proses. Mereka hanya mementingkan hasil akhir, dimana mereka tampil sebagai pemenang. Apapun caranya dan berapapun biayanya.

Mereka menentang nasehat kaum bijak, bahwa tujuan yang baik hanya dapat dicapai melalui cara-cara yang baik pula.

Bahkan, mereka sangat alergi kalau kaum moralis bersabda bahwa tidak pernah ada tujuan yang baik jika menghalalkan penggunaan cara-cara yang bertentangan dengan moral. Sekalipun apa yang dikatakan kaum bijak itu secara substantif sungguh benar.

Sebab tujuan berpolitik itu sejatinya untuk mencapai kebaikan umum, maka segala upaya mendapatkan kekuasaan pun seyogyanya dilakukan dengan cara-cara yang baik pula.

Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel