Mental Baja, Pantang Menyerah

Narasi Manipulatif

Bisa ia beralasan, anakku masih belum cukup umur, belum akil balik, atau belum dewasa. Ibarat bayi merah, tidak mungkin langsung disuruh jadi pemimpin.

Tetapi jangan kaget, kalau secara diam-diam di ruang gelap si politisi mewujudkan kehendaknya untuk mengubah aturan. Misalnya batas terendah usia dewasa diturunkan agar anaknya bisa memenuhi syarat ikut kompetisi merebut jabatan politik.

Di sini si politisi mampu menyembunyikan kehendaknya. Tetapi ia berhasil mewujudkan kehendaknya itu tanpa bisa dideteksi oleh orang lain.

Pantang Menyerah

Bagaimana perilaku politisi yang pantang menyerah itu diwujudkan? Di mata para politisi, kekejaman harus dilakukan sedemikian rupa secara efektif semata-mata demi tercapainya tujuan. Sekalipun kekejaman itu bertentangan dengan perikemanusiaan dan moralitas.

Persis seperti dikatakan Lao Tzu, dalam buku Tao Te Ching, seorang politisi harus berani tinggalkan kebaikan, berani lepaskan kebijaksanaan. Tidak ada kasih sayang, tidak ada moralitas. Sebab hanya dengan begitu, politisi akan menarik manfaat seribu kali.

Politisi yang sedang memegang kekuasaan, tidak akan segan-segan mempraktekkan “politik rebus kodok”. Kodok dimasukkan ke dalam panci yang sebelumnya sudah diisi dengan air dingin.
Kodok dimasukkan ke dalam panci dan dibiarkan berenang kesana-kemari dengan gembira. Sebab si kodok merasa masih sama seperti habitatnya sendiri.

Ternyata secara diam-diam, api di bawah panci dinyalakan tanpa diketahui si kodok. Perlahan tetapi pasti, air mulai hangat, panas dan mendidih sampai 100 derajat celsius. Tidak ada peluang lagi bagi kodok itu untuk melompat keluar dari panci. Kodok itu pun mati dalam kekejaman si politisi pemilik panci.

Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel