Mental Baja, Pantang Menyerah

Narasi Manipulatif

Maka tidak ada politisi yang begitu ceroboh mengumbar kehendaknya ke ruang publik. Apa yang hendak ia lakukan untuk menaklukkan bahkan menghancurkan lawan-lawan politiknya. Pasti ia akan sembunyikan kehendaknya itu rapat-rapat.

Wartawan boleh bertanya tentang ambisinya dan bagaimana ia berusaha meraih ambisinya itu. Tetapi, jangan kaget kalau para politisi cenderung menjawab berputar-putar, samar-samar, tidak bicara lugas, tidak bicara apa adanya.

Jika ruang publik diibaratkan dengan pintu depan maka di pintu depan ia tetap harus bisa menyembunyikan kehendaknya. Bahkan demi menyembunyikan kehendaknya itu, politisi tega berbohong dan melakukan tipu daya. 

Di mata politisi, setiap kali bibir mereka bergerak, bohong dan tipu daya adalah sah. Dalam konteks itu mereka tidak patut disalahkan, apalagi dianggap tidak bermoral.

Yang salah adalah kita warga masyarakat biasa yang percaya pada kebohongan dan tipu daya mereka, yang memercayai begitu saja pernyataan mereka seolah-olah benar.

Oleh karena itu setiap pernyataan politisi di ruang publik tidak bisa dibaca lurus-lurus. Bahkan harus dibaca sebaliknya. Kalau ia mengatakan ya, bisa jadi maksudnya adalah tidak. Demikian pula sebaliknya.

Jika pimpinan tertinggi di suatu negara atau daerah ditanya, apakah Anda mempunyai kehendak untuk melakukan praktek nepostime dalam rangka membangun dinasti politik? Pasti tidak mungkin dia akan langsung memberi konfirmasi kehendaknya untuk melakukan praktek politik busuk yang nepotis itu.

Bisa saja kehendaknya itu ia sembunyikan dengan mengatakan hal-hal sebaliknya. Misalnya, mana mungkin saya majukan anak saya untuk jadi gubernur atau bupati atau walikota.

Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel