Bila kita tergolong orang pilihan yang istimewa, hendaklah kita bersyukur kepada Tuhan dan berterima kasih kepada sesama. Kita menjadi orang pilihan atau orang istimewa tidak terjadi hanya karena kehebatan kita sendiri. Tetapi kita menjadi orang pilihan atau orang istimewa, hal itu terjadi terutama karena berkat dan kemurahan Tuhan, karena belas kasih dan kasih sayang-Nya. Karena itu kita harus bersyukur kepada Tuhan dalam doa atau Ekaristi.
Selain Tuhan, pasti banyak juga orang lain ikut memberikan andil atau partisipasi dalam perjuangan kita. Pada umumnya kita tidak sukses atau berhasil sendiri dalam hidup. Keberhasilan kita banyak ditopang dan didukung dari banyak support dan uluran tangan orang lain. Karena itu ketika kita sudah berada pada posisi menjadi orang istimewa karena kesuksesan atau keberhasilan atau prestasi tertentu, kita tidak boleh lupa berterima kasih kepada orang lain. Kita menjadi orang yang beradab apabila kita tahu berterima kasih.
Bila kita tidak tahu bersyukur kepada Tuhan dan tidak tahu pula berterima kasih kepada sesama, pantaslah kita mendapat semacam ‘punishment’ atau hukuman untuk memperbaiki diri dan hidup kita. ‘Punishment’ atau hukuman memang rasanya amat negatif, tetapi sesungguhnya ‘punishment’ atau hukuman merupakan suatu jalan ‘edukatif’ atau ‘rehabilitatif’ untuk membangun, membina dan membentuk diri dan kepribadian kita agar menjadi lebih baik, lebih berkenan dan lebih berguna bagi Tuhan, bagi orang lain dan bagi diri sendiri.
Kitab Amsal memberikan nasihat yang sangat konkrit dan praktis: “Jangan menolak didikan dari anakmu, ia tidak akan mati kalau engkau memukulnya dengan rotan. Engkau memukulnya dengan rotan, tetapi engkau menyelamatkan nyawanya dari dunia orang mati” (Ams 23: 13-14).
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel





