Ruteng, infopertama.com – Kekudusan bukan sekadar doa dan kesalehan pribadi, melainkan bertumbuh ketika seseorang bersedia melayani, berbagi, membawa damai, dan peduli terhadap sesama.
Pesan tersebut mengemuka dalam perayaan Ekaristi Hari Raya Semua Orang Kudus di Gereja Paroki Ekaristi Kudus Ka Redong, Minggu (1/11/2026). Umat Komunitas Basis Gerejani (KBG) Santo Yosep mengambil peran sentral sebagai petugas liturgi dalam perayaan Misa pertama tersebut.
Keterlibatan aktif umat—mulai dari orang dewasa, kaum muda, hingga anak-anak—dalam tugas koor, pemazmur, lektor, pembawa persembahan, hingga pengatur tempat duduk dan penjaga pintu gereja, menunjukkan bahwa pelayanan Gereja adalah tanggung jawab bersama seluruh umat.
Kekudusan yang Bersifat Komunal
Dalam homilinya yang mengangkat tema “Darah Anak Domba Menyucikan Pengorbanan Orang Beriman” (bdk. Why. 7:2-4.9-14; 1Yoh. 3:1-3; Mat. 5:1-12a), Pater Kristianus Sambu, SVD, menegaskan bahwa orang kudus bukanlah mereka yang tidak pernah jatuh, melainkan mereka yang selalu bangkit dan menyatukan pengorbanan harian dengan pengorbanan Kristus di kayu salib.
Pater Kris menekankan bahwa kekudusan bersifat komunal dan tidak bisa dijalankan secara individual. Umat diajak untuk tidak menjadi penonton, melainkan aktif terlibat dalam KBG, wilayah, OMK, Sekami, dan kegiatan pastoral paroki.
Selain itu, ia secara khusus mengingatkan umat untuk berani melawan budaya yang merusak kehidupan keluarga, seperti perjudian (online maupun offline), pinjaman online, rentenir berbunga tinggi, serta kebiasaan menjual tanah warisan secara tidak bijaksana demi gengsi atau kebutuhan sesaat. Tanah warisan, tegasnya, adalah titipan leluhur sekaligus jaminan masa depan anak cucu.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel










