MBG Maju, Jaring Laba-Laba Mundur: Menghantar Gizi Negara Kembali ke Sawah Petani

Untuk mengawal efektivitasnya, pengawasan birokratis dari Jakarta saja tidak cukup. Kita bisa belajar dari kearifan lokal Lonto Leok di Manggarai—di mana pengawasan dilakukan secara komunal. Membentuk Tim Pengawas Dapur di setiap sekolah yang melibatkan guru, orang tua murid, dan tokoh adat untuk memantau porsi serta kualitas makanan setiap hari akan jauh lebih efektif. Sanksi sosial adat kerap terbukti lebih ampuh meredam kecurangan ketimbang sanksi administratif semata.

Penutup

Rumusan masa depan program ini sederhana: MBG Maju, Jaring Laba-laba Mundur.

* Maju karena program ini menunaikan mandat suci Pembukaan UUD 1945 Alinea Keempat.

* Mundur Jaring Laba-labanya melalui digitalisasi marketplace, transparansi harga yang ketat, serta kontrol sosial berbasis komunitas.

Dengan formula ini, kita memetik tiga keuntungan sekaligus: anak-anak kita kenyang gizinya, negara menunaikan janji konstitusinya, dan petani-peternak lokal hidup sejahtera karena dapur MBG disuplai langsung dari kebun mereka sendiri.

Biarkan uang negara mengalir, tetapi pastikan alirannya menetes ke lumpur sawah petani, bukan menyangkut di jaring para pemburu rentenir.

Referensi:

* Badan Gizi Nasional. (2026, 9 Oktober). Data Realisasi MBG dan Pemasok SPPG.

* Espos.id. (2026, 28 Oktober). Survei INDEF: Hanya 5 Persen UMKM Formal Bermitra MBG.

* Indonesia Investments. (2026, Februari). Profiteering Over Policy: Rising Shadow of Corruption as Firms Cut Corners for MBG Contracts.

* MediaKompeten.co.id. (2026, 29 Oktober). BGN Siapkan Pasar Digital untuk Atur Pasokan Pangan Nasional.

Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel