Ketika Budaya Menjadi Komoditas, Siapa yang Menjaga Maknanya?

Dr. Adrianus M. Nggoro (Foto: Dokumen Pribadi)

Oleh Adrianus Marselus Nggoro★

infopertama.com – Kebudayaan bisa tetap ramai dipertontonkan, laris diperjualbelikan, dan viral di media sosial, tetapi diam-diam kehilangan sesuatu yang paling mendasar: makna yang membuatnya hidup bagi masyarakat pemiliknya.

Budaya semakin mudah dipasarkan, tetapi belum tentu semakin dipahami. Tradisi tampil dalam festival, menjadi daya tarik pariwisata, menghiasi produk industri kreatif, dan beredar luas melalui media sosial. Kecerdasan buatan bahkan memungkinkan bentuk-bentuk visual yang menyerupai ekspresi budaya tradisional dihasilkan dalam waktu singkat. Semua perkembangan ini membuka peluang bagi kreativitas dan ekonomi masyarakat. Namun, di tengah semakin luasnya peredaran budaya sebagai komoditas, ada pertanyaan mendasar yang patut diajukan: ketika budaya menghasilkan nilai ekonomi, siapa yang menjaga makna dan keberlanjutan hidupnya?

Pertanyaan ini bukan ajakan untuk menolak pasar, teknologi, atau modernitas. Kebudayaan bukan benda mati yang harus disimpan dalam museum agar tetap autentik. Tradisi dapat berkembang, ditafsirkan ulang, dan menemukan bentuk baru sesuai dengan kebutuhan zaman. Persoalannya adalah apakah perubahan tersebut memperkuat kehidupan kebudayaan atau justru memisahkan ekspresi budaya dari pengetahuan, nilai, dan masyarakat yang mewariskannya.

Dari Warisan menjadi Komoditas

Dalam kehidupan kontemporer, budaya memiliki kedudukan yang semakin kompleks. Ia menjadi sumber identitas, sarana pendidikan, kekuatan diplomasi, daya tarik wisata, sekaligus sumber penghidupan. Kain tradisional, tarian, musik, arsitektur, kuliner, ritual, dan pengetahuan lokal dapat membuka peluang ekonomi yang sebelumnya tidak tersedia. Perajin memperoleh pasar baru, seniman menemukan ruang berekspresi, dan masyarakat dapat memperkenalkan kekayaan budayanya kepada khalayak yang lebih luas.

Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel