Ketika Budaya Menjadi Komoditas, Siapa yang Menjaga Maknanya?

Dr. Adrianus M. Nggoro (Foto: Dokumen Pribadi)

Pendidikan juga harus bergerak melampaui sekadar pengenalan nama, bentuk, dan fungsi tradisi. Anak-anak dan mahasiswa perlu belajar menanyakan dari mana suatu pengetahuan berasal, bagaimana maknanya dijelaskan oleh sumber yang dapat dipercaya, dan mengapa penghormatan terhadap masyarakat pemilik pengetahuan itu penting. Dengan cara ini, pelestarian tidak berhenti sebagai hafalan tentang masa lalu, melainkan menjadi kemampuan untuk mengambil keputusan yang bertanggung jawab pada masa kini.

Mengukur Kemajuan Kebudayaan

Pada akhirnya, kritik terhadap komodifikasi budaya bukanlah kritik terhadap kreativitas atau upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Sebaliknya, kritik ini berangkat dari keyakinan bahwa ekonomi kreatif akan lebih berkelanjutan jika ditopang oleh pengetahuan, pengakuan, dan hubungan yang adil dengan komunitas budaya.

Ada tiga agenda yang patut diprioritaskan:

Pertama, Pemerintah dan komunitas perlu memperkuat dokumentasi serta pendidikan kebudayaan dengan menempatkan masyarakat pendukung tradisi sebagai subjek utama.

Kedua, Pelaku industri kreatif dan pariwisata perlu membangun praktik pemanfaatan budaya yang transparan, menghormati sumber, dan memperhatikan pembagian manfaat.

Ketiga, Lembaga pendidikan harus membiasakan generasi muda berkreasi tanpa menghapus asal-usul, menyederhanakan makna, atau mengklaim pengetahuan yang tidak mereka miliki.

Ukuran keberhasilan kebudayaan tidak cukup terletak pada seberapa sering tradisi dipertontonkan, seberapa tinggi nilai produknya, atau seberapa luas ia beredar di media sosial. Kita juga perlu mengukur apakah masyarakat yang mewariskannya semakin berdaya, apakah pengetahuannya tetap hidup, dan apakah generasi berikutnya mampu mengembangkan tradisi tanpa kehilangan penghormatan terhadap asal-usulnya.

Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel