Ketika Budaya Menjadi Komoditas, Siapa yang Menjaga Maknanya?

Dr. Adrianus M. Nggoro (Foto: Dokumen Pribadi)

Akan tetapi, hubungan antara budaya dan pasar tidak selalu berjalan seimbang. Ketika nilai ekonomi menjadi ukuran utama, tradisi berisiko dinilai berdasarkan kemabilities menarik perhatian, menghasilkan keuntungan, atau memenuhi selera konsumen. Yang mudah dipertontonkan dan dijual memperoleh ruang lebih besar, sedangkan pengetahuan, proses pewarisan, dan nilai sosial yang tidak mudah dikomersialkan dapat tersisih.

Dalam artikel opini ANTARA, “Menghela Tradisi ke Arus Ekonomi Kreatif”, yang terbit 5 September 2026, Rioberto Sidauruk mengingatkan bahwa tradisi tidak semestinya hidup hanya dari romantisme masa lalu atau rasa iba masyarakat. Gagasan tersebut penting karena pelestarian yang mengabaikan kebutuhan ekonomi para pelaku budaya dapat membuat tradisi kehilangan daya hidupnya.

Namun, membawa tradisi ke pasar juga bukan jawaban yang selesai dengan sendirinya. Pertanyaan berikutnya adalah siapa yang memperoleh manfaat, siapa yang mengendalikan pemanfaatannya, dan bagaimana masyarakat pendukung budaya tetap memiliki kedudukan dalam menentukan masa depannya. Pasar dapat membantu tradisi bertahan, tetapi pasar tidak selalu menjadi penentu terbaik bagi nilai kebudayaan.

Ketika Pertunjukan Menggantikan Pemahaman

Persoalan serupa terlihat dalam pengembangan pariwisata berbasis budaya. Festival dan pertunjukan dapat memperkenalkan tradisi kepada publik, menghidupkan usaha lokal, dan menciptakan kebanggaan kolektif. Akan tetapi, ketika kebudayaan hanya ditampilkan untuk memenuhi jadwal kunjungan wisatawan, ada risiko bahwa masyarakat lebih diposisikan sebagai penyedia tontonan daripada sebagai pemilik pengetahuan dan pelaku kebudayaan.

Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel