Gagasan Baru: Menjadikan MBG sebagai Pasar Raya Petani
Menghadapi tantangan ini, paradigma berpikir kita harus diubah. MBG tidak boleh dipandang sekadar sebagai beban APBN—yang melonjak dari Rp71 triliun pada 2025 menjadi Rp268 triliun pada 2026—melainkan harus diposisikan sebagai mesin penggerak ekonomi kerakyatan.
Kepala BGN Dr. Sudaryono dalam berbagai kesempatan menegaskan bahwa MBG memiliki efek pengganda (multiplier effect) yang kuat melalui backward linkages. Jika satu dapur melayani 3.000 porsi per hari, dapur tersebut membutuhkan pasokan harian berupa 300 kg beras, 100 kg ayam, dan 100 kg telur.
Jika komoditas itu dibeli langsung dari petani dan peternak lokal, uang negara akan berputar di desa. Di sinilah esensi ekonomi kerakyatan Bung Hatta hidup kembali. Di Manggarai, misalnya, ketika MBG berjalan optimal, petani termotivasi memperluas lahan tanam dan peternak bergairah karena memiliki kepastian pasar harian. Uang negara tidak menguap ke pemasok luar daerah, melainkan kembali menghijaukan sawah rakyat.
Langkah progresif kini tengah disiapkan melalui peluncuran Marketplace Digital MBG (soft launching November dan full launching Desember 2026). Platform ini dirancang untuk menghubungkan koperasi petani dan peternak langsung dengan dapur SPPG menggunakan Harga Acuan Pemerintah (HAP). Kebijakan ini sejalan dengan Perpres No. 115 Tahun 2025 yang melahirkan larangan mitra merangkap sebagai pemasok bahan baku, serta pelibatan warung rakyat agar distribusi tidak bersifat sentralistik.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel









