Manusia, Ayam, dan Martabat yang Dipertaruhkan

Jika manusia bertindak seperti ayam bebas membuang “kotoran” di mana saja maka kotoran itu tidak hanya berupa sampah fisik. Ia bisa berupa kata-kata kasar yang ditebar di ruang publik, keputusan politik yang merugikan banyak orang, atau tindakan egois yang mengabaikan dampaknya terhadap sesama. Ketika manusia menolak norma, ia bukan sedang memperluas kebebasan, melainkan mengikis martabatnya sendiri.

Filsafat sejak lama menempatkan manusia sebagai makhluk rasional. Aristoteles menyebutnya zoon politikon makhluk yang hidup dalam polis, dalam tatanan bersama. Immanuel Kant kemudian menegaskan bahwa manusia memiliki nilai karena ia mampu bertindak berdasarkan hukum moral yang ia sadari. Artinya, manusia bukan hanya tunduk pada hukum alam, tetapi mampu menciptakan hukum bagi dirinya sendiri.

Di titik ini, kebebasan bukan berarti melakukan apa saja. Kebebasan adalah kemampuan untuk memilih yang baik meskipun yang buruk lebih mudah. Ayam tidak punya pilihan moral; manusia punya. Justru karena punya pilihan itulah manusia bisa jatuh lebih rendah daripada hewan ketika ia dengan sadar memilih untuk tidak peduli.

Peradaban dibangun di atas kesediaan manusia untuk menahan diri. Menunda hasrat. Mengakui bahwa ruang ini bukan miliknya sendiri. Tanpa itu, kota hanya menjadi kandang besar dengan teknologi canggih. Gedung-gedung tinggi berdiri, tetapi kesadaran runtuh. Hukum ditulis, tetapi nurani diabaikan.

Maka pertanyaan “bagaimana jika manusia seperti ayam?” sejatinya adalah peringatan. Ia mengingatkan bahwa martabat bukan sesuatu yang otomatis melekat selamanya. Ia harus dijaga melalui tindakan yang bertanggung jawab. Melalui kesadaran bahwa setiap perbuatan meninggalkan jejak.

Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel