Manusia, Ayam, dan Martabat yang Dipertaruhkan

Oleh Aji Priyo Utomo★

infopertama.com – Ayam tidak pernah diadili karena membuang kotorannya sembarang tempat. Ia tidak pernah dipanggil untuk mempertanggungjawabkan jejak yang ditinggalkannya. Sebab ayam hidup dalam wilayah naluri. Ia bergerak oleh dorongan biologis, bukan oleh kesadaran etis. Dalam dirinya tidak ada pertimbangan tentang pantas atau tidak pantas, tentang hak orang lain, tentang ruang bersama yang harus dijaga.

Lalu pertanyaannya menjadi tajam: bagaimana jika manusia hidup seperti ayam?

Pertanyaan ini bukan tentang kotoran dalam arti harfiah semata melainkan sebuah metafora tentang tindakan tanpa pertimbangan moral. Tentang kebebasan yang dilepaskan dari tanggung jawab. Tentang hasrat yang tidak lagi disaring oleh nurani.

Secara biologis, manusia memang tidak jauh berbeda dari hewan. Ia makan, tidur, berkembang biak, dan mempertahankan diri. Namun secara eksistensial, manusia melampaui itu. Ia memiliki kesadaran diri. Ia tahu bahwa ia tahu. Ia mampu menilai tindakannya sendiri, bahkan sebelum orang lain menilainya. Di situlah letak perbedaan mendasar: manusia bukan sekadar makhluk yang hidup, tetapi makhluk yang menyadari hidupnya.

Kesadaran itulah yang melahirkan norma. Norma bukan sekadar aturan sosial yang membatasi. Ia adalah hasil dari kesadaran kolektif bahwa hidup bersama membutuhkan batas. Tanpa norma, kebebasan berubah menjadi benturan. Tanpa etika, ruang publik berubah menjadi arena saling melukai. Norma adalah jembatan antara kebebasan pribadi dan hak orang lain.

Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel