Kritik, Politik dan  Luka Kita Sendiri

Tantangan Yesus perlu kita lanjutkan, “Bagaimana engkau dapat berkata kepada saudaramu: Biarlah aku mengeluarkn selumbar itu dari matamu, padahal ada balok dari matamu. Hai orng munafik, keluarkanlah dahulu balok dari matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan selumbar itu dari mata saudaramu…” (Matius 7:4-5).

Kritik itu, sekali lagi, jelas tak diharamkan! Namun, agar bingkai dan isi kritik jadi tampak tulus dan sungguh benar, iya itu tadi, pakailah mata kita sendiri yang sepantasnya telah dibersihkan terlebih dahulu. Namun, apakah jalur ini  gampang dilalui? Nampaknya lebih mudah melihat ‘selumbar di luar mata sendiri.’

Tetapi, apa jadinya ketika kritik telah masuk dalam bias-bias politik? Pertarungan penuh kompetisi ‘mati atau hidup, atau kalah atau menang’ menjadikan kritik sebagai modus demi ciptakan kesan fatal akan lawan politik.

Di hari-hari ini sungguh tak sulit untuk membedakan antara ‘mata analis’ dan ‘suara pengkritik keji.’ Saat analis menatap satu kenyataan dalam kerangka obyektif, berimbang, membuka ruang berpikir dalam berbagai sudut pandang, dan berwawasan, maka para pengkritik keji hanya berputar-putar dalam arus indoktrinasi yang sempit dan picik.

Yang menjadi soal, iya itu tadi, sederetan ‘kritik politis’ yang bertendensi pada simpati publik (rakyat) demi mendulang suara mayoritas menuju kekuasaan yang ambisional. Yang mengkritik, sedihnya lagi, sekiranya ia hanya ingin ‘membungkus ketidaksanggupannya’ demi mempersalahkan pihak lain.

Laman: 1 2 3 4 5

Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel 

 

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses