(sekadar satu perenungan)
P. Kons Beo, SVD
Kata-kata Yesus, Tuhan dan Guru, sungguh menyentak. Di satu kesempatan Ia ingatkan serius kepada orang banyak dan para MuridNya. SabdaNya demikian, “Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi telah menduduki kursi Musa. Sebab itu turuti dan lakukanlah segala sesuatu yang mereka ajarkan kepadamu. Tetapi janganlah kamu turuti perbuatan-perbuatan mereka karena mereka mengajarkan tetapi tidak melakakukannya…” (Matius 23:3).
Dan kata Yesus selanjutnya, “Mereka itu mengikat beban-beban berat, lalu meletakkannya di atas bahu orang, tetapi mereka sendiri tidak mau menyentuhnya” (Matius 23:4). Apa yang diajarkan para penguasa ‘kursi Musa’ itu terkadang adalah tuntutan berat. Itu bisa berkenaan dengan segala aturan ini-itu yang wajib publik indahkan.
Otak para Farisi dan Ahli Taurat pasti tajam bicara tetang kewajiban publik yang mesti ditaati. Dan kaum elit ini punya dakwaan berat sekiranya orang tak sampai pada ketaatan penuh akan aturan dan tata istiadat nenek moyang. Semua tata auran yang klasik dan tradisional itu.
Adakah yang salah dari Hukum dan Taurat dan tradisi nenek moyang? Tentu saja tidak! Sebab Yesus sendiri tegaskan bahwa “yang para elit bicara itu, ya ikutilah, taatilah atau lakukanlah!” Namun, yang menjadi soal adalah bahwa tak ada ‘bingkai kesaksian nyata dari kata-kata yang diajarkan itu.’ Dan ini memang jadi masalah serius ketika ‘konstruksi kata-kata tak dilapisi kuat dengan meterai tindakan nyata.’
Apa yang diingatkan Yesus dua ribuan tahun lalu kini masih ditangkap sebagai alarm hidup sosial. Namun, kita dapat renungkan dalam beberapa pemahamannya. Taruhlah ‘bahwa beban berat itu adalah seonggokan kata-kata saleh serta ungkapan bertuah bagi sesama.’ Tentu terdengar indah memang. Namun, tak selamanya dan seharusnya si penabur kata bijak itu telah hayati sungguh segala isi kata bertuah itu. Tidak! Lalu persoalannya?
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel
Tinggalkan Balasan