Kata bijak dan nasihat saleh terkadang terungkap setelah si ‘bijak’ telah dapati (banyak) pelajaran dari sekolah kehidupan. Itulah jalan hidup yang sulit, berat, penuh perjuangan. Tetapi juga terdapat jalan hidup penuh suram dan bahkan gelap yang telah jadi pengalaman berharga.
Kisah pahit penuh durhaka terkadang berujung pada pelajaran kehidupan penuh sunyi yang bermakna gelegar. Apakah sel tahanan, penjara, rumah pengasingan ‘hadir tanpa sedikitpun gema nilai kehidupan’? Alam kaum terkucil dan orang-orang buangan’ sesungguhnya adalah kampus sunyi penuh makna yang hanya dapat ditangkap oleh kesanggupan kerka batin dan membedah jiwa.
Di ‘alam tahanan’ itu tampak hanya ada sunyi, kebisuan, tatapan wajah kosong serta segala ketakberdayaan. Tetapi, tidak kah, sekali lagi, semua itu sebenarnya berdaya untuk menerobos hati semua kita yang ‘benar, suci-saleh, moralis dan yang rajin tampil sebagai pendakwah (pengkritik)?
Jika mesti meminjam ungkapan H. Nouwen, terkadang mesti dialami sebagai apa yang disebutnya sebagai “penyembuh yang terluka.” Yang hendak dikatakan adalah bahwa seringkali seseorang “harus merawat lukanya sendiri, tapi juga siap menyembuhkan luka orang lain.” Terdengar paradoks memang! Bahwa diri sendiri lagi ‘berantakan’, tetapi tetap bernyali untuk ‘sembuhkan luka dan derita orang lain.’
Tetapi tidakkah kisah ‘penyembuh yang terluka’ ini bisa ditelisik dari sudut pandang lain? Bagaimanapun “Sungguh menakjubkan sekali melihat kesulitan tidak bisa menghadang kita untuk melakukan kebaikan.” Bahwa harapan itu tetap terlihat bagi orang lain walau terkesan untuk diri saja kita masih tampak jauh dari harapan itu sendiri. Selalu ada harapan keselamatan yang ditunjuk dan dibawa bagi ‘orang lain, walau diri sendiri nampak tak dapat ia selamatkan’ (cf Matius 27:42).
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel
Tinggalkan Balasan