Ketika AI Menjadi Alat Teror: Membaca Kasus Cirebon dari Perspektif Psikologi Teknologi

Mereka mungkin tidak memahami bagaimana AI dapat menciptakan gambar yang tampak nyata tetapi sebenarnya palsu. Di sisi lain, banyak lansia memiliki kebutuhan yang tinggi untuk menjaga martabat diri, nama baik keluarga, dan penerimaan sosial di lingkungan sekitarnya. Ancaman penyebaran gambar yang dianggap memalukan dapat memicu tekanan psikologis yang luar biasa.

Dalam psikologi trauma, kondisi tersebut sering memunculkan respons yang dikenal sebagai freeze atau fawn response. Selama ini masyarakat hanya mengenal respons melawan (fight) atau melarikan diri (flight). Padahal ketika seseorang merasa terjebak dalam ancaman dan tidak melihat jalan keluar, ia dapat memilih untuk membeku atau menuruti pelaku sebagai strategi bertahan hidup. Oleh karena itu, perilaku korban yang tampak mengikuti kemauan pelaku tidak dapat diartikan sebagai persetujuan, melainkan sebagai bentuk adaptasi psikologis terhadap situasi yang dirasakan sangat mengancam.

Yang menarik, ancaman digital memiliki kekuatan tambahan yang tidak dimiliki ancaman konvensional, yaitu adanya persepsi bahwa apa yang sudah masuk ke internet akan tersebar selamanya. Dalam psikologi teknologi, fenomena ini dikenal sebagai perceived permanence. Korban tidak hanya takut terhadap materi yang dimiliki pelaku, tetapi juga membayangkan konsekuensi sosial yang mungkin terjadi apabila materi tersebut tersebar. Sering kali yang menghancurkan bukanlah gambarnya, melainkan bayangan mengenai rasa malu, penghakiman sosial, dan kehilangan harga diri yang mungkin dialami.

Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel