Dalam kasus ancaman berbasis AI, pelaku tidak perlu melakukan kekerasan fisik karena rasa takut yang muncul pada korban sudah cukup untuk menciptakan kepatuhan.
Selain itu, psikolog komunikasi Timothy Levine melalui Truth-Default Theory menjelaskan bahwa manusia pada dasarnya memiliki kecenderungan untuk mempercayai informasi yang diterimanya sampai ditemukan bukti yang menunjukkan bahwa informasi tersebut tidak benar. Dengan kata lain, otak manusia secara alami berada pada posisi “percaya terlebih dahulu”.
Ketika pelaku menunjukkan gambar atau foto yang tampak realistis, korban cenderung menerimanya sebagai kenyataan sebelum sempat melakukan pemeriksaan lebih lanjut. Kondisi inilah yang membuat manipulasi visual menjadi sangat efektif sebagai alat intimidasi.
Perkembangan teknologi AI memperkuat fenomena tersebut. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa teknologi deepfake kini mampu menghasilkan gambar dan video yang sangat menyerupai kondisi nyata sehingga semakin sulit dibedakan oleh masyarakat awam. Bahkan beberapa studi menunjukkan bahwa manusia sering kali gagal membedakan konten asli dan hasil manipulasi ketika kualitas visualnya cukup baik.
Penelitian mengenai deepfake juga menemukan bahwa unsur emosi dalam gambar atau video menjadi faktor penting yang memengaruhi persepsi seseorang terhadap keaslian suatu konten.
Bagi kelompok lansia, ancaman seperti ini dapat menjadi lebih berat. Selain faktor usia, sebagian lansia tidak tumbuh bersama perkembangan teknologi digital sehingga memiliki literasi digital yang lebih rendah dibanding generasi muda.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel






