Selanjutnya, para legenda mengunjungi Kampung Adat Ruteng Pu’u yang juga terletak masih dalam kota Ruteng, tidak jauh dari Gereja Katedral Lama Ruteng. Kampung ini perkirakan sudah berusia 800 tahun.
Berpindah dari Kampung Adat Ruteng Pu’u, para legenda menyempatkan diri mengunjungi Rumah peninggalan raja dan Bupati pertama Manggarai. Rumah ini menjadi saksi bisu peralihan kekuasaan atau pemerintahaan dari raja menjadi bupati setelah Indonesia merdeka.
Perjalanan para riders berlanjut. Mereka terus menggeber kuda besi tunggangannya menuju sawah sarang laba-laba. Sebuah areal sawah yang menerapkan sistem pembagian tanah (Lingko) berbentuk jaring laba-laba.
Artinya, pusatnya adalah “lodok” dan bagian luarnya “cicing” dalam bahasa Manggarai. Cicing artinya bagian pinggir dari areal persawahan.
Jika lihat dari ketinggian, areal sawah ini akan terlihat seperti sarang laba-laba. Maka disebut sawah sarang laba-laba.
Perjalan terus lanjutkan menuju ke barat Pulau Flores. Sebelum memasuki Kota Labuan Bajo, riders berkunjung ke SMKS Bina Mandiri, Nggorang, Labuan Bajo Manggarai Barat. Di mana mereka diterima dan disambut dengan pengalungan selendang songke Manggarai dan tarian tiba meka, danding hingga caci.
Kehadiran para riders ke tempat ini untuk memberikan semangat kepada para murid sebagai generasi penerus bangsa untuk semakin terpacu dalam mengejar impian dan cita-citanya.
Perjalan tour menjelajahi Flores “Tour Jelajah Flores 1001 Tikungan” untuk Tour de Flores Heritage 2022 (TdFH) kali ini berakhir di Gua Batu Cermin.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel
Tinggalkan Balasan