Sensasi Adiksi di Balik Serial Penipuan Wisatawan Labuan Bajo

infopertama.com – Kasus penipuan paket wisata di Labuan Bajo yang melibatkan agen travel Labuan Bajo Top dengan tersangka KA alias Itok Aman kembali mencoreng wajah pariwisata Indonesia. Korban—termasuk wisatawan mancanegara asal Italia—harus menelan pil pahit terlantar di destinasi super prioritas tersebut. Namun, jika kita mencermati rekam jejak dan pola penipuan yang terjadi secara berulang, muncul pertanyaan mendasar: Mengapa tindakan kejahatan ini terus terulang meski pelakunya berkali-kali berada di bawah ancaman hukum dan kecaman publik?

Dari sudut pandang psikologi perilaku (behavioral psychology), kejahatan yang dilakukan secara sistematis dan berulang seperti ini telah melampaui motif finansial semata. Ini bukan lagi sekadar persoalan mencari uang instan, melainkan telah bergeser menjadi sebuah adiksi perilaku (behavioral addiction)—di mana sensasi utama dari kejahatan justru terletak pada proses permainan risiko, kontrol atas korban, dan riak panggung perhatian yang diciptakannya.

Sensasi Berbahaya (Thrill-Seeking) dan Kejutan Dopamin

Dalam psikologi adiksi, tindakan berisiko tinggi memicu pelepasan neurotransmiter dopamin di otak yang menimbulkan rasa ganjaran (reward) dan antisipasi. Bagi seorang pelaku penipuan berulang, dopamine rush ini tidak didapat saat uang masuk ke rekening, melainkan pada detik-detik proses mengelabui.

Itok Aman merancang skenario manis: menjanjikan kapal pesiar mewah, hotel bintang lima, hingga tiket kawasan TN Komodo. Padahal, ia sadar betul uang tersebut tidak disetorkan ke vendor.

Membiarkan wisatawan terbang jauh-jauh hingga mendarat di bandara dalam kondisi terlantar adalah manifestasi dari perilaku thrill-seeking. Pelaku menikmati sensasi psikologis dari menguji sejauh mana kebohongan itu dapat bertahan sebelum akhirnya meledak. Sama seperti pecandu yang membutuhkan dosis lebih tinggi, semakin besar skala kebohongan dan risiko yang dihadapi, semakin tinggi pula kepuasan ego yang dirasakan.

Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel