Untuk sesuatu yang kita asumsikan?
Tak ada fakta dan kebenaran pragmatis murni yang kita miliki. Kita bisa ‘dekati sesuatu dengan tafsiran.’ Begitulah kurang lebih, sederhananya, yang dapat ditangkap dari Nietschze. Karena tafsir, maka hal itu bisa bergantung dari kualitas relasi pribadi kita dengan seseorang itu. Pun karena tafsir, itu juga dipengaruhi alam ruang batin.
Maka, yakinlah…
Bila kita sejuk di hati dan tak sesak di rongga dada, pun bila pikiran kita tak berkabut suram, maka kita bakal melihat sesama dan dunia dalam terang. Iya, itu sepadan dengan ‘melihat segalanya dalam Kasih.’ Begitulah kurang lebih yang diyakini St Thomas Aquino.
Sayangnya….?
Sekiranya kita memandang, iya menafsir semuanya ‘penuh heboh nan bergejolak.’ Maka, segeralah bara api panas membakar. Kita bisa ‘melilitkan isu di leher sendiri. Lalu mulai bersemangat kibaskan dan hembuskan suasana panas.’ Kita jadinya telah takluk dan menyerah pada alam batin berkabut.
Dan lebih dari itu….?
Sekiranya kita jadikan diri sendiri sebagai ukuran penghakiman bagi sesama. Proklamasi diri sendiri sebagai ‘panglima kebenaran dan srikandi kesalehan’ jadi tak terhindarkan. Dan untuk sesama? Ia mesti tersekap dan terborgol dalam jeruji nista, hina dan bejat. Iya, dalam alam durjana!
Pahamilah….
Bukan kah terhadap sesama, sejatinya, tetap ada ‘ruang kosong dan dalam? Tak terselami sepenuhnya dan sesempurnanya? Kita bakal tak sanggup mengawal dengan ‘raungan sirene kegelisahan penuh heboh.’ Yang memaksa khalayak untuk menaruh perhatian dalam tanya penuh sangsi ‘yang bukan-bukan.’
Bukan kah…
Semua kita masih di kefanaan? Dan ‘Di bumi yang berputar pasti ada gejolak. Ikuti saja iramanya. Isi dengan rasa…’
Untuk menggapai sesama dalam sikap, aneka rasa, opini, dan segala tafsir sana sini, kita, ada bagusnya, ‘menorehkan batin kita sendiri.’ Sambil kita menata segala kesanggupan rohani kita sendiri. Membalut semuanya dalam Iman, Harapan dan Kasih…
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel





