B e r b a h a g i a l a h (Matius 5: 1 – 12a)

Kawan ku….
Sangkal diri adalah jalan menuju kerendahan hati dan ketulusan. Kita bukanlah segalanya. Kita berharga di mata Allah, itu sudahlah terasa cukup dan bahkan mulia (cf Mazmur 8). Biarlah kita sadar bahwa keangkuhan dan kesombongan dengan merendahkan sesama dibenci Tuhan. Sangkal diri menuntun kita untuk dapat berdamai dengan orang lain, nyaman dalam keberagaman, serta sanggup memeluk diri sendiri dalam segala kelebihan dan keindahan, dalam segala keterbatasan serta dalam banyak kekurangan dan kelemahannya….

-Dalam pengorbanan, kawan, kita ditarik dari ‘kenyamanan diri sendiri’ untuk melebur masuk dan terlibat dalam hidup sesama dan dalam hidup bersama. Dalam suka dan dukanya. Rasa sukacita dan bahagia pasti kita alami, saat kita tahu bahwa sesama alami kebahagiaan itu karena sikap dan tindak pengorbanan kita walau sekecil dan sesederhana sekalipun.

Kawan ku…
Mantapkanlah keyakinan kita! Bahwa kita tidak akan pernah bahagia dengan berlaku curang terhadap sesama, dengan perilaku yang menekan dan menyingkirkan sesama, dengan selalu merendahkan orang lain. Bahkan terhadap siapapun yang membenci kita, sedikit pun tak ada niat untuk membalas. Sebaliknya ada rasa damai dan bahagia saat kita sanggup mendoakan dan memberkati siapapun yang membenci kita. Di situlah rasa penuh bahagia sungguh kita alami.

-Dan kawan ku…
Dalam menggapai rasa penuh sukacita, damai dan berbahagia, para Kudus tujukan jalan hati penuh pasrah. Di situ kita bebas dari segala kuatir dan gelisah fisik akan yang fana. Berpasrahlah pada ketercukupan, pada keadaan, pada siapapun yang kita jumpai dan alami dalam keseharian. Beradaptasi diri dan hati dalam keyakinan iman sungguh membebaskan!

Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel