Apakah Kristus Sungguh Wafat Tiga Hari Tiga Malam?

Dari sini kita ketahui bahwa jika “empat puluh hari empat puluh malam” sama artinya dengan “empat puluh hari lamanya”, maka dengan prinsip yang sama, tiga hari tiga malam sama artinya dengan tiga hari lamanya, yang disebut juga sebagai hari yang ketiga (bdk. Est 4:16-17 – 5:1) ataupun sesudah tiga hari (Mat 27:63).

Konsekuensi penghitungan hari secara inklusif ini, menjadikan waktu seminggu yang telah lewat sama artinya dengan “delapan hari kemudian” (lih. Yoh 20:26). Sebab hari kebangkitan Yesus dan penampakan-Nya kepada para murid-Nya dihitung sebagai hari pertama, dan ayat itu mengisahkan bahwa seminggu telah lewat sejak kejadian tersebut.

Jadi menurut cara penghitungan Yahudi, antara hari Minggu ke Minggu berikutnya dikatakan sebagai “delapan hari kemudian” atau sesudah delapan hari. Dengan demikian, dari hari Jumat ke Minggu dikatakan sebagai “tiga hari kemudian” atau “sesudah tiga hari”.

Penghitungan hari menurut kebiasaan Yahudi yang tercatat dalam Kitab Suci, menunjukkan penghitungan hari secara inklusif. Artinya, dalam menghitung jangka waktu, waktu kurang dari 24 jam, tetap dihitung sehari penuh. Jadi “setelah tiga hari” atau “tiga hari tiga malam” tidak harus berarti tiga hari penuh (72 jam). Penghitungan hari secara inklusif ini nyata dalam catatan sejarah Yahudi di abad pertama oleh Josephus, dan dari Jewish Talmud.[2] Mengingat Kitab Suci ditulis dengan latar belakang budaya dan pemahaman Yahudi, kita harus menerima keseluruhan cara penghitungan hari menurut kebiasaan Yahudi, yaitu baik bahwa hitungan hari yang dimulai jam 6 sore sampai 6 sore berikutnya, maupun cara menghitung jumlah hari secara inklusif, yaitu bahwa beberapa jam sebelum jam 6 sore sudah dihitung satu hari penuh.

Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel