Antropologi Multikultural: Mengenal Budaya Dugderan yang Menjadi Ciri Khas Masyarakat Semarang dalam Menyambut Ramadan

Pada akhirnya, Dugderan adalah lebih dari sekadar tradisi atau tontonan tahunan. Ia adalah penanda identitas, ruang dialog budaya, dan warisan kolektif masyarakat Semarang. Melalui pelestarian yang berbasis komunitas, edukasi lintas generasi, dan kebijakan pemerintah yang berpihak pada budaya lokal, Dugderan dapat terus hidup dan berkembang sebagai simbol dari wajah Indonesia yang multikultural.

Nama Anggota
Charles Theofilus Kordias Laoli (2023011108)
Elisabeth Ema Orolalng (2023011111)
Felina melani (2023011067)
Imelda ricsa maharani (2023011032)
Mahasiswa Prodi Psikologi, Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa

Dosen Pengampu
Hartosujono, A.Md, S.E., S.Psi., M.Si.

Editor: Walterius R. Janu, S.Psi

Untuk memenuhi tugas mata kuliah Antropologi

Daftar Pustaka

Anggraeni, R. (2023). Simbolisme dan Akulturasi Budaya dalam Warak Ngendog pada Tradisi Dugderan di Semarang. Jurnal Ilmu Budaya, 21(1), 33–45.
Fitriani, H., & Musthofa, M. (2021). Eksistensi Tradisi Dugderan Sebagai Warisan Budaya Tak Benda Kota Semarang. Jurnal Sejarah dan Budaya Lokal, 10(2), 112–128.
Handayani, T. (2023). Kearifan Lokal dalam Tradisi Dugderan: Kajian Historis dan Sosial Budaya. Semarang: Penerbit Cakra Edukasi.
Hadi, A. (2022). Revitalisasi Tradisi Lokal dalam Perspektif Pariwisata Budaya: Studi Kasus Dugderan di Kota Semarang. Jurnal Pariwisata dan Budaya, 7(1), 50–61.
Isnaini, S. (2023). Warak Ngendog sebagai Representasi Multikulturalisme dalam Tradisi Dugderan. Jurnal Multikultural dan Tradisi Nusantara, 5(1), 71–83.
Yuliana, T. (2021). Multikulturalisme dalam Tradisi Masyarakat Urban: Studi Dugderan Semarang. Jurnal Urbanisme dan Kearifan Lokal, 8(1), 43–58.

Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel