Antropologi Multikultural: Mengenal Budaya Dugderan yang Menjadi Ciri Khas Masyarakat Semarang dalam Menyambut Ramadan

Pemerintah Kota Semarang sudah mulai menggandeng sekolah-sekolah dan komunitas seni lokal untuk mengedukasi generasi muda tentang asal-usul dan makna Dugderan.

Beberapa guru sejarah bahkan memasukkan materi Dugderan ke dalam pembelajaran di kelas sebagai bagian dari warisan budaya lokal. Komunitas pengrajin Warak Ngendog juga rutin mengadakan pelatihan dan workshop untuk pelajar dan wisatawan. Pelibatan langsung seperti ini penting agar proses transmisi nilai budaya tidak terputus.

Berikut adalah hasil wawancara yang dilakukan kepada salah satu warga berinisial SW, dan guru berinisial AF yang telah terlibat dalam pembuatan Warak Ngendog sejak lebih dari 25 tahun lalu dan  pegiat budaya ini. Saat ditemui di kediamannya di kawasan Kota Lama, mereka menjelaskan:

“Dugderan itu bukan cuma festival atau pasar malam, Mas. Ini adalah bagian dari identitas wong Semarang. Saya sejak kecil sudah diajak orang tua saya ikut arak-arakan Dugderan. Warak Ngendog itu dibuat dengan tangan, dengan makna simbolik yang dalam. Bentuknya campuran antara naga, unta, dan kambing—itu bukan asal-asalan. Itu mencerminkan perpaduan budaya Tionghoa, Arab, dan Jawa yang ada di kota ini sejak dulu.”

Ia menambahkan bahwa dalam proses pembuatan Warak Ngendog pun, selalu melibatkan pemuda-pemudi setempat:

“Saya sengaja ngajak anak-anak muda di kampung buat belajar bikin Warak. Biar mereka ngerti sejarahnya, bukan cuma ikut karnavalnya. Kita nggak bisa ngelestariin budaya kalau generasi mudanya nggak dilibatkan.”

Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel