Antropologi Multikultural: Mengenal Budaya Dugderan yang Menjadi Ciri Khas Masyarakat Semarang dalam Menyambut Ramadan

Sebagai guru sejarah di salah satu SMA negeri di Semarang dan pegiat komunitas “Nguri-uri Budaya Semarang”, Bapak Fauzi menekankan pentingnya integrasi tradisi seperti Dugderan ke dalam pendidikan formal:

“Saya selalu memasukkan Dugderan dalam materi lokal sejarah budaya kepada siswa. Saya ajak mereka langsung turun ke lapangan waktu perayaan berlangsung. Mereka harus tahu, ini bukan cuma tontonan, tapi pelajaran tentang toleransi, keberagaman, dan bagaimana masyarakat kita hidup berdampingan.”

Ia juga menyampaikan bahwa tradisi ini seharusnya lebih difungsikan sebagai media pendidikan karakter.

“Kalau kita lihat Warak Ngendog, itu ‘kan sarat simbol. Kita bisa ajarkan makna kebersamaan, gotong royong, dan akulturasi budaya. Ini pembelajaran hidup yang tidak semua daerah miliki. Dugderan bisa jadi contoh nasional bagaimana multikulturalisme dijalankan secara konkret.”

Dalam wawancara dengan warga setempat, budayawan lokal yang juga pembuat Warak Ngendog, ia menyatakan bahwa Warak bukan sekadar boneka arak-arakan. Ia menuturkan, “Warak itu lambang kita, warga Semarang. Kalau kita kehilangan makna itu, kita kehilangan sebagian jati diri kita sendiri.”

Hal senada juga disampaikan oleh AF, guru sejarah di salah satu SMA negeri di Semarang. Ia menjelaskan bahwa Dugderan adalah media pendidikan karakter yang luar biasa karena mengajarkan toleransi, kerja sama, dan penghargaan terhadap keberagaman.

Melalui lensa antropologi multikultural, Dugderan menunjukkan bagaimana keberagaman dapat diwujudkan dalam praktik kehidupan sehari-hari, bukan hanya sebagai slogan. Ini menjadi penting di tengah meningkatnya polarisasi sosial dan politik identitas yang terjadi di banyak kota besar di Indonesia. Dugderan menjadi bukti bahwa perbedaan bukan sumber konflik, tetapi bisa menjadi modal sosial untuk membangun kota yang inklusif dan harmonis.

Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel