Maka sikap dan prilaku yang ideal mesti datang dari dalam, lalu mewujud nyata ke luar dalam relasi dan komunikasi yang kelihatan dengan orang lain. Itu berarti ada kesatuan antara niat hati dan ‘performans’ atau penampilan luar. Ada kesatuan antara kata dan perbuatan. Ada kesatuan antara tujuan atau orientasi dengan realisasi atau pelaksanaan. Dan, ada kesatuan antara visi dan misi. Dalam rumusan negatif, tidak ada ‘gap’ atau jurang antara niat dan tampilan, antara kata dan perbuatan, antara pikiran dan perasaan, antara tujuan dan realisasi, antara harapan dan kenyataan, antara keinginan dan kehendak serta antara visi dan misi. Tidak ada ‘olesan bedak’ atau ‘asesoris’ untuk menutup noda dalam diri. Tidak ada ‘tutupan ninja’ untuk menyembunyikan fakta alami dalam diri. Juga, tidak ada topeng untuk menyembunyikan kepalsuan dan pemalsuan diri dan identitas pribadi. Semuanya spontan, terbuka dan apa adanya.
Dalam bingkai pemahaman ini, orang yang rendah hati sadar dan yakin betul bahwa dirinya bukanlah apa-apa dan bukan juga siapa-siapa. Meskipun di mata orang lain dia adalah orang yang hebat, ‘capable’ atau mampu, namun semua penilaian dari luar tidak menjadi kualitas yang membuat dia sombong dan angkuh. Tetapi semua penilaian yang hebat dari luar tetap membuat dia sendiri sadar bahwa dirinya tetap “kosong” untuk selalu menerima masukan dari luar atau untuk selalu diisi dengan hal-hal baru, informasi baru atau pengetahuan baru tentang apa saja dan dari siapa saja. Orang yang rendah hati tidak merasa dirinya sudah ‘self-suffient’ atau ‘sudah cukup’ atau ‘sudah penuh’ dengan dirinya. Ia selalu lapar dan haus akan kebenaran tentang realitas hidup apa saja yang terjadi di dunia ini. ia selalu mencari dan mencari kebenaran dalam hidup.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel




