Namun demikian,
Apapun usia yang ditentukan untuk menerima sakramen penguatan, kuncinya adalah untuk tetap mengingat maksud penerimaan sakramen ini yang dihubungan dengan pentingnya persiapan penerimaannya. Dalam hubungan dengan hal ini, Katekismus Gereja Katolik membuat sebuah ringkasan yang sangat padat bahwa persiapan untuk penguatan harus diarahkan sekian supaya menghantar warga Kristen ke suatu kesatuan yang lebih erat dengan Kristus, ke suatu kemesraan yang lebih hidup dengan Roh Kudus, dengan perbuataan-Nya, dengan anugerah-Nya, dan dengan dorongan-Nya supaya ia dapat menanggung lebih baik kewajiban hidup Kristen yang sifatnya apostolik. Atas dasar itu maka katekese sakramen ini harus membangkitkan pengertian tentang keanggotaan dalam Gereja Yesus Kristus – baik Gereja universal maupun Gereja lokal yang bertanggungjawab khusus dalam persiapan ini (bdk. Katekismus Gereja Katolik, n. 1309)
Penutup
Sakramen penguatan/krisma menyempurnakan rahmat pembaptisan. Seseorang yang menerima penguatan memperoleh kuasa untuk mengakui imannya kepada Kristus secara publik dengan kata-kata dan perbuatannya. Dengan kata lain menjadi saksi yang berani, sekalipun mungkin untuk itu ia harus berani menumpahkan darah. Untuk menjalankan tugas dan tanggungjawab sebagai anggota Gereja, apalagi untuk melakukan tindakan heroik mengorbankan nyawa demi iman, faktor usia tentu menjadi unsur determinan. Atau bagaimana?
Penulis: RD. Rikardus Jehaut
Tulisan ini merupakan republikasi dari Mirifica.net
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel







