Pada saat pelaksanaan Ma’nene, peti-peti jenazah leluhur dikeluarkan dari liang atau makam batu untuk dibersihkan. Kain pembungkus diganti, peti yang rusak diperbaiki, dan dilakukan doa bersama demi memohon perlindungan dari marabahaya, hama tanaman, serta kesialan hidup.
Seperti dijelaskan oleh Gunawan dan Merina (2018), tradisi Ma’nene tidak hanya sebatas penggantian pakaian atau pembersihan jasad, melainkan mencerminkan pentingnya ikatan kekeluargaan, termasuk dengan keluarga yang telah berpulang.
Tahapan Ritual Ma’nene (Versi Aluk Todolo) Bagi penganut kepercayaan Aluk Todolo, pelaksanaan Ma’nene melalui sejumlah tahapan:
Pertama, adalah Tahapan Persiapan Keluarga membersihkan patung tau-tau (simbol leluhur), merapikan area pekuburan, serta membawa perlengkapan seperti pakaian bersih, sirih, kapur sirih, pinang, air, rokok, dan bunga.
Kedua, adalah Persembahan Keluarga, menyajikan persembahan berupa babi atau kerbau sesuai kesepakatan, serta makanan rumahan yang dimasak menjadi makanan khas mapa’piong, yang kemudian disantap bersama.
Ketiga atau terakhir adalah Pemanggilan Arwah Tominaa. Pada tahap ini pemimpin upacara membacakan doa dalam bahasa Toraja kuno untuk mengundang arwah leluhur. Saat makanan yang disajikan dimakan oleh Tominaa, itu menandakan kehadiran roh. Makanan tersebut kemudian dibagikan kepada keluarga sebagai lambang penerimaan berkah.
Melalui upacara ini, masyarakat tidak hanya menunjukkan rasa hormat dan cinta kepada leluhur, tetapi juga mengungkapkan rasa syukur atas perlindungan dan hasil panen yang melimpah. Ma’nene menjadi simbol hubungan yang tak terputus antara yang hidup dan yang telah meninggal, serta mencerminkan pandangan hidup masyarakat Toraja bahwa kematian adalah bagian dari perjalanan menuju alam roh, bukan akhir dari kehidupan.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel




