Tak Pernah Lelah untuk Menanti

Gereja atau Umat Allah adventus, katanya, ibarat ‘seorang ibu (bunda) yang rentangkan harapan ke depan demi menanti kelahiran seorang bayi.’ Bayangkan pula suasana penantian penuh rindu seorang anak akan kembalinya sang ibu ke rumah. Dan sungguh akhirnya mendekap erat sang ibu penuh bahagia.

Di atas segalanya, sekali lagi, yang diharapkan Tuhan adalah bahwa kita para muridNya, hamba-hambaNya senantiasa berjaga-jaga. Agar kita tak kehilangan apa yang diserukan oleh Rasul Paulus sebagai “Kasih karunia dan damai sejahtera dari Allah Bapa, dan dari Tuhan Yesus sendiri” (1Kor 1:3).

Maka, marilah kita menanti penuh harapan. Sekiranya tak pernah pupus harapan kita dalam penantian itu. Kita memang mesti bersabar. Benarlah bahwa ada sekian banyak hal yang dapat diputuskan dan disikapi oleh kita manusia oleh karena kesanggupan yang dimiliki.

Tetapi dalam banyak hal kita mesti bersabar dalam penantian akan kuasa, penyelenggaraan dan kehendak ilahi yang memeterai semuanya. Tidak kah banyak kenyataan membuktikan bahwa hilang kesabaran dalam penantian penuh harapan dan perjuangan, menggiring manusia kepada ‘tindakan ambil jalan pintas, cari gampangan’ yang akhirnya justru menjerat manusia pada tragegi di jalan hidup?

Mari kita renungkan pula kata-kata Tuhan: “Akan tetapi, apabila Anak Manusia datang, adakah Ia mendapatkan iman di bumi?” (Luk 18:8)

Mari, datanglah Tuhan! Tak pernah lelah dan surut iman dan harapan kami untuk kehadiranMu!

Verbo Dei Amorem Spiranti

Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel