Dua Pendekatan Membangun Rumah Tahan Gempa: Sains dan Tradisi Raum Mbaru
Oleh: Adrianus Marselus Nggoro
infopertama.com – Hingga kini, sebagian orang masih menyimpan luka trauma trauma akibat robohnya rumah tembok. Muncul wacana di Manggarai bahwa ke depan sebaiknya kita membangun rumah kayu saja agar tidak terdampak gempa. Sikap itu sangat manusiawi sebagai bentuk respons atas trauma masa lalu. Namun, hal tersebut bukan berarti rumah batu tidak bisa dirancang tahan gempa.
Dari manakah asal kayu? Dan dari manakah asal batu, semen, besi, serta pasir? Semua bahan itu berasal dari bumi (alam), sehingga sifat-sifat dasarnya pun mengikuti hukum alam. Karena semuanya berasal dari alam, sifat-sifat material tersebut sebenarnya dapat diadaptasi—kunci utamanya terletak pada cara dan mutu konstruksinya.
Tulisan ini menawarkan dua pendekatan dalam melihat persoalan tersebut: sains dan tradisi.
1. Pendekatan Sains
Jika kita mengamati jembatan—baik jembatan sungai maupun jembatan antarpulau di atas laut—bahan dasarnya adalah besi, baja, semen, pasir, dan kawat, serta sangat jarang menggunakan kayu.
Sebagaimana dicatat dalam Jurnal Teknik Sipil Polbeng, “Penggunaan baja dalam konstruksi jembatan memiliki keunggulan dibandingkan beton dan kayu: baja adalah bahan yang kuat dan tahan terhadap cuaca.”
Bukti terdekat dari Flores, seperti dilaporkan oleh Kompas.com, tiga prototipe rumah tahan gempa buatan BRIN di Labuan Bajo tetap berdiri kokoh setelah diguncang gempa bermagnitudo 7,7. Rumah-rumah tersebut bukanlah rumah kayu, melainkan bangunan berbahan bata interlock presisi dari campuran semen dan pasir yang menerapkan prinsip strong column and weak beam.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel












