Ada sekian banyak sesama yang ‘masih di belakang dan terseret tertati-tati nasib hidupnya.’ Terdapat sekian banyak manusia yang terperangkap dalam tragedi dunia yang terluka. Tak perlulah untuk tetap keasyikan dalam pamor diri penuh pencitraan. Tak usahlah memburu sejadinya karier yang mesti menanjak ibarat ‘naik-naik ke puncak gunung dan mesti meninggi.’
Maka biarlah kita punya waktu dan kesempatan untuk ‘berhenti dan menoleh ke belakang.’Panggilan kemuridan di dalam Yesus sungguh menjadi indah di dalam pengorbanan demi sesama. Anda sungguh ‘terberkati di dalam Tuhan sebab Anda tahu apa artinya menoleh ke belakang dan menyatakan Kasih itu kepada sesama.
Akhirnya, di dalam diri dan jalan hidup yang ditandai dengan ‘banyak tidak hebatnya,’ yang nyata dalam serba kekurangan dan kegagalan, kita tetaplah menjadi manusia yang diberkati Tuhan dalam KasihNya yang agung. Sebab, demi kita yang sering ‘belakangan dan memang di posisi akhir dan nyaris tiada harapan,’ Tuhan sungguh ‘berhenti dan tetap menoleh ke kebelakang.’
Bagaimana pun, suara tanya kedua murid itu amatlah bermakna. Nampaknya kita pun mesti bertanya, “Guru, di manakah Engkau tinggal?” Sebab, di tempat di mana Yesus tinggal, di situpun kita ‘tinggal.’ Namun apa artinya ‘sebuah tempat tinggal’ jika Yesus bersabda, “Serigala mempunyai liang, dan burung mempunyai sarang tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepalaNya” (Mat 8:20).
Tempat di mana Yesus tinggal adalah ‘situasi sebuah perjumpaan dengan yang kusta, buta, timpang, tuli, yang lapar dan haus, yang kerasukan roh jahat, yang lumpuh, kaum pendosa dan yang dianggap sampah masyarakat.’ Seperti Ia pernah “menoleh ke belakang” agar murid-muridNya menyertaiNya, kini Ia pun tengah ‘menoleh ke belakang dan menanti kita’ untuk bersamaNya ke alam situasi penuh suram itu.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel



