Tak Boleh Lupa untuk Menoleh ke Belakang, Bro!

Tetapi, tindakan Yohanes Pemandi “menunjuk Yesus yang tengah lewat” itu lengkapi dengan aksi Yesus yang “menoleh ke belakang.” Yesus tahu bahwa ada yang mengikutiNya. Dan sejak itulah dua aksi ‘kemuridan dalam Yesus diawali’ bahwa “mereka tinggal bersama Yesus dan mengikutiNya.” Iya, kemuridan yang ditandai dengan “tinggal bersamaNya dan ikuti Dia.”

Yesus mesti ‘menoleh ke belakang’ sebab ada ‘sesama, orang lain’ yang mesti dilibatkan dalam karya perutusanNya. Yesus mesti ‘menoleh ke belakang’ sebab ketika itu ada dua orang yang membuntutiNya.’ Mereka itulah murid-murid pertama Yesus. Murid-murid adalah ‘orang-orang yang ada di pihak Yesus, di dalam irama perjalanan ‘menyapa dan menyelamatkan manusia.’

Mari merenung di jalan praktis dan di keseharian. Tengah berjalan demi meraih masa depan yang (lebih) ceriah? Tengah bergerak demi satu cita-cita kemanusiaan yang besar? Tentu kita tak mungkin berjalan sendiri. Kita tetap butuh ‘aura dan aksi kebersamaan.’ Kita tak mungkin terhindar dari gerak partisipasi (turut serta) sesama. Maka?

Tak pernah boleh lupa untuk sejenak “menoleh ke belakang.” Tak perlulah untuk hanya ‘melaju kencang dan mengalir deras’ dengan pikiran sendiri, dengan mau-mau atau kehendak sendiri. Kita memang mesti ‘menoleh ke belakang’ agar dapat bergandengan tangan dengan sesama demi cita-cita kedatangan Kerajaan Allah sebagaimana yang diajarkan Yesus.

Bagaimanapun ada sisi lain yang patut direnungkan. Katakan seumpama begini, “Jika memang nantinya atau mungkin juga sudah ‘jadi manusia di depan bahkan terdepan’ dalam kuasa, posisi, jabatan, atau dalam segala nasib baik dan meyakinkan, tetaplah teringat akan alarm ‘jangan lupa menoleh ke belakang.’

Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel