Berdasarkan sabda Tuhan ini, ketika Yesus bersuara berkata-kata dan berbicara, Yesus dapat didengarkan oleh domba-domba-Nya. Dengan memperdengarkan suara-Nya, kata-kata-Nya dan bicara-Nya, Dia dapat mengenal domba-domba-Nya dan domba-domba-Nya mengenal Dia dan mengikuti Dia. Lebih dari itu, kehidupan terjadi dan tercipa melalui kata-kata dan pembicaraan, melalui nasihat dan bimbingan, melalui pengajaran dan penjelasan.
Karena itu seperti Yesus, janganlah kita malu atau takut untuk bersuara, berkata-kata atau berbicara. Kalau kita merasa gugup, itu tidak apa-apa. Juga kalau kita salah atau keliru dalam kata-kata atau pembicaraan, itu juga amat biasa. Tetapi jangan kita pernah malu atau takut untuk berkata-kata dan berbicara. Jangan juga kita takut untuk bersalah dalam kata-kata dan pembicaraan. Lebih baik kita salah berbicara atau berkata-kata daripada sama sekali kita tidak berbicara. Orang lain mendengar dan mengenal kita bila kita berbicara atau berkata-kata.
Dalam konteks pemilu misalnya, orang lain atau masyarakat akan mengenal para kandidat atau calon kalau mereka berbicara atau berkata-kata. Tetapi kalau mereka diam-diam saja, tidak kompanye dan tidak menjelaskan lewat kata-kata visi dan misi serta program kerja mereka, orang atau masyarakat tidak akan mengenal mereka dan tidak juga akan memilih mereka. Begitu juga kita. Orang lain akan mengenal keadaan kita, kesulitan kita bila kita mau berbicara dan berani membuka mulut.


Bukan hanya berani berbicara, tetapi juga kita mesti rendah hati untuk mendengarkan orang lain yang berbicara kepada kita. Jangan kita monopoli atau dominan dalam pembicaraan meskipun kita mengetahui banyak hal. Kita harus tetap memberi kesempatan kepada orang lain untuk berbicara atau mengemukakan pikirannya. Ada banyak pengetahuan datang dari luar atau orang lain. Pengetahuan apa saja dapat kita peroleh, bila kita mau menjadi seorang ‘murid’ yang tekun mendengarkan ‘guru’ yang mengajar.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel






