Suara, Kata dan Bicara Dalam Hidup

Suara
Ilustrasi

Khotbah Hari Minggu Paskah IV
Minggu, 8 Mei 2022
Bacaan: Kis 13: 14.43-52; Why 7: 9.14b-17;
Yoh 10: 27-30

Hidup manusia bergerak dan berjalan dalam relasi dan komunikasi dengan orang lain. Sedangkan relasi dan komunikasi itu sendiri amat melekat dengan suara, kata dan bicara. Bayangkan bila tidak ada suara yang keluar dari kerongkongan kita, tidak ada kata yang terucap dari mulut kita dan tidak ada bicara yang terlontar dari bibir kita, apakah relasi dan komunikasi dapat berjalan?

Relasi dan komunikasi memang bisa berjalan dalam suasana diam dan suasana bisu. Orang tidak membuka mulut untuk menyapa. Hanya mata saling memandang. Hanya wajah saling bertatap. Hanya tangan saling berjabat. Relasi dan komunikasi memang bisa terjadi demikian. Akan tetapi relasi dan komunikasi bisu, sunyi dan sepi bukanlah relasi dan komunikasi yang lasim, normal dan biasa. Dalam hidup pada umumnya, relasi dan komunikasi terbangun dan terbentuk dalam suara, kata dan bicara. Intinya, manusia harus ada suara. Suara itu diatur dalam kata-kata dan kata-kata itu diatur dalam bicara. Tidak ada kata tanpa suara. Tidak ada bicara tanpa kata.

Bagi Tuhan Yesus, suara itu sangat penting dan amat mendasar. Dalam Injil Ia katakan: “Domba-domba-Ku mendengarkan suara-Ku; Aku mengenal mereka, dan mereka mengikuti Aku” (Yoh 10: 27). Yesus bersuara, Yesus berkata-kata dan Yesus berbicara. Inilah hakekat diri atau inti pribadi Tuhan Yesus. “Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah. Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatu pun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan” (Yoh 1: 1.3).

Berdasarkan sabda Tuhan ini, ketika Yesus bersuara berkata-kata dan berbicara, Yesus dapat didengarkan oleh domba-domba-Nya. Dengan memperdengarkan suara-Nya, kata-kata-Nya dan bicara-Nya, Dia dapat mengenal domba-domba-Nya dan domba-domba-Nya mengenal Dia dan mengikuti Dia. Lebih dari itu, kehidupan terjadi dan tercipa melalui kata-kata dan pembicaraan, melalui nasihat dan bimbingan, melalui pengajaran dan penjelasan.

Karena itu seperti Yesus, janganlah kita malu atau takut untuk bersuara, berkata-kata atau berbicara. Kalau kita merasa gugup, itu tidak apa-apa. Juga kalau kita salah atau keliru dalam kata-kata atau pembicaraan, itu juga amat biasa. Tetapi jangan kita pernah malu atau takut untuk berkata-kata dan berbicara. Jangan juga kita takut untuk bersalah dalam kata-kata dan pembicaraan. Lebih baik kita salah berbicara atau berkata-kata daripada sama sekali kita tidak berbicara. Orang lain mendengar dan mengenal kita bila kita berbicara atau berkata-kata.

Dalam konteks pemilu misalnya, orang lain atau masyarakat akan mengenal para kandidat atau calon kalau mereka berbicara atau berkata-kata. Tetapi kalau mereka diam-diam saja, tidak kompanye dan tidak menjelaskan lewat kata-kata visi dan misi serta program kerja mereka, orang atau masyarakat tidak akan mengenal mereka dan tidak juga akan memilih mereka. Begitu juga kita. Orang lain akan mengenal keadaan kita, kesulitan kita bila kita mau berbicara dan berani membuka mulut.

Bukan hanya berani berbicara, tetapi juga kita mesti rendah hati untuk mendengarkan orang lain yang berbicara kepada kita. Jangan kita monopoli atau dominan dalam pembicaraan meskipun kita mengetahui banyak hal. Kita harus tetap memberi kesempatan kepada orang lain untuk berbicara atau mengemukakan pikirannya. Ada banyak pengetahuan datang dari luar atau orang lain. Pengetahuan apa saja dapat kita peroleh, bila kita mau menjadi seorang ‘murid’ yang tekun mendengarkan ‘guru’ yang mengajar.

Nasrudin membawa burung beo ke pasar. Temannya Nadus bertanya: “Apa yang sedang kau kerjakan?” “Aku sekarang berdagang beo di pasar,” jawab Nasrudin. “Apa beomu bisa bicara kah? “Oh tentu bisa. Jangankan bicara, menyanyi pun bisa.” Tegas Nasrudin. Seketika itu juga beonya menyanyi: “Balonku ada lima” “Wah, aku mau beli beo ini. Tetapi bila ada yang paling pintar, saya pasti beli, harga tidak masalah,” ujar Nadus sambil memberi kepingan uang emas kepada Nasrudin. Keesokan harinya Nasrudin mengantar beo yang pintar ke rumah Nadus. Tiga hari kemudian, Nadus marah-marah datang ke rumah Nasrudin. “Beo yang kau kirim, tidak mau bicara.” “Kan kamu minta beo yang paling pintar. Maka aku kirim kepadamu beo pemikir. Memang jarang ngomong dia. Yang suka ngomong itu justru bodoh” {Berita KESAN, Humor Sufi: Burung yang Pintar, Garut, 6/5/2022).

Kita butuhkan bukan hanya pintar pikir, tetapi juga pintar bicara. Berpikir dan berbicara harus seimbang.

Doaku dan berkat Tuhan
Mgr Hubertus Leteng.

error: Sorry Bro, Anda Terekam CCTV