Flora Grace Putrianti, S.Psi., M.Si., M.Psi., Psikolog★
infopertama.com – Peristiwa siswa yang mengolok guru di Purwakarta bukan sekadar kenakalan remaja yang “kebablasan”. Ia adalah alarm keras: ada yang retak dalam fondasi relasi pendidikan kita. Dan yang retak itu bukan hanya sopan santun, melainkan cara generasi muda memandang otoritas, empati, dan makna menjadi manusia di ruang sosial.
Kita sering tergoda menyederhanakan persoalan: salahkan siswa, hukum, selesai. Padahal, perilaku adalah puncak gunung es. Di bawahnya ada proses psikologis yang lama diabaikan—gagalnya internalisasi nilai hormat. Anak tidak lahir dengan sikap menghina; itu dipelajari, ditoleransi, bahkan kadang ditertawakan.
Ketika di rumah otoritas dinegosiasikan tanpa batas, di ruang publik ironi dijadikan hiburan, dan di media sosial ejekan diberi panggung, maka ruang kelas tinggal menunggu giliran menjadi arena yang sama.
Lebih jauh, kita sedang menyaksikan efek budaya digital yang tak terkendali. Kamera bukan lagi alat dokumentasi, melainkan mesin validasi.
Dalam logika ini, guru berubah dari figur pendidik menjadi “objek konten”. Remaja—yang secara neurologis belum matang dalam kontrol diri—didorong untuk menukar empati dengan atensi. Yang viral menang, yang bermartabat kalah.
Di titik ini, masalahnya bukan lagi disiplin, tetapi distorsi nilai: penghargaan sosial bergeser dari kebajikan ke sensasi. Lalu kita berbicara tentang empati—atau tepatnya, ketiadaannya.
Mengolok di depan umum bukan hanya pelanggaran etika, tetapi indikasi tumpulnya kemampuan melihat orang lain sebagai subjek yang memiliki perasaan. Ini bukan kebetulan. Pendidikan kita masih terlalu lama menomorduakan pembelajaran sosial-emosional. Kita menguji kognisi, tetapi membiarkan afeksi tumbuh liar. Kita menghitung nilai, tetapi lupa mengasah nurani.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel






