Ruteng, infopertama.com – Memasuki masa transisi pemulihan pascabencana per Kamis (1/10/2026), Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Manggarai terus mengintensifkan langkah penanganan bagi masyarakat terdampak.
Berdasarkan rekapitulasi data resmi Posko BPBD Kabupaten Manggarai, sebanyak 1.344 jiwa dari 377 Kepala Keluarga (KK) saat ini masih bertahan di 17 titik posko pengungsian terpadu.
Penurunan Jumlah Pengungsi dan Alasan Warga Bertahan
Jumlah warga yang berada di posko pengungsian terpadu mengalami penurunan bermakna dari data awal yang mencatatkan 2.369 jiwa (699 KK). Penurunan ini terjadi seiring ditutupnya beberapa posko di wilayah Cibal (seperti Desa Langkas dan sebagian Desa Beamese) setelah warga memilih beralih ke posko mandiri.
Kendati demikian, sebanyak 377 KK terpaksa masih menggantungkan hidup di posko terpadu. Faktor utama warga belum kembali ke pemukiman adalah kondisi rumah yang rusak berat dan sudah tidak layak dihuni.
Selain itu, ancaman bahaya seperti tanah bergerak, tanah retak, serta rasa trauma dan kecemasan akan potensi gempa susulan masih menyelimuti benak para pengungsi.
Posko-posko yang masih aktif beroperasi terdistribusi di lima kecamatan, yakni Reok, Cibal, Cibal Barat, Wae Ri’i, dan Lelak.
Perlindungan Ekstra bagi 346 Jiwa Kelompok Rentan
Posko BPBD memberikan perhatian dan pemantauan khusus terhadap kelompok rentan yang membutuhkan fasilitas penanganan esensial di tempat pengungsian. Tercatat ada 346 jiwa kelompok rentan yang kini berada dalam pengawasan tim kesehatan dan relawan.
Rincian kelompok rentan di posko terpadu meliputi:
* Balita: 114 jiwa
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel












