Puasa: Seberapa Jauh “Kita Mesti Telanjang dan Benar-Benar Bersih?”

Bagaimanapun ‘tatapan mata Yesus bukanlah kebaikan hati yang sementara dan samar-samar.’ Tuhan tak menatap untuk menakut-nakuti, mengancam atau untuk memata-matai. Tuhan memandang dan menatap siapapun ‘sebagaimana adanya.’ Dan di situlah lahir sukacita atas kebenaran. Sebab Tuhan ‘tidak pura-pura mengenal siapa aku? Atau bahwa Tuhan sungguh tak pedulikan aku, tetapi bahwa aku bergembira sebab Tuhan mengenal aku dalam kesegalaanku’ (gaudium de veritate-sukacita atas kebenaran, St Agustinus).

Maka, Masa Puasa bagi kita tetap menjadi momentum ilham Kasih dan Sukacita. Benar, di hari-hari kendali diri penuh ugahari dan laku tapa ini, kita selimuti diri dalam doa bertautan, penuh hening, konsen pada kata-kata penuh makna.

Tetapi, benarlah pula bahwa di Masa Puasa ini pertarungan diri untuk “kita mesti telanjang dan benar-benar bersih” mesti digelorakan dalam sunyi penuh tawakal. Untuk membiarkan Tuhan menatap kita sebagaimana adanya. Seperti Tuhan memandang Petrus yang rapuh, lemah, takut dan tak berdaya, yang di hadapan perempuan itu harus menyangkal. Iya, Petrus yang seolah-olah heroik pemberani untuk tetap setia ikuti Yesus di kisah deritaNya.

Yang ditatap Tuhan adalah ‘aku yang tak berdaya, yang tak tersembunyikan, yang banyak drama dan penuh aksi treatrikal kehidupan. Namun, di situlah semakin menjadi nyata kuat kuasa daya kasih Tuhan yang menyelamatkan…’ Mari kita ‘bertelanjang di hadapan Tuhan. Demi suci lahir dan di dalam batin…’

Verbo Dei Amorem Spiranti
Collegio San Pietro – Roma

Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel