Di semuanya ini, apakah kita mesti terperangkap dalam arus putus asa dan kebingungan tak bertepi? Apakah yang diagungkan dan dimuliakan sebagai nilai, harapan dan kehendak baik mesti terpaku mati dan terkuburkan? Tentu saja tidak!
Puasa adalah jalan-ziarah Gereja, kita semua, yang ‘tak hanya ditebus oleh derita dan kematian Yesus, tetapi bahwa Gereja-kita pun rela disalibkan bersama Yesus.’ Satu ziarah spiritual yang tak mudah dan menantang. Bila mesti kembali lagi ke The Cloud of Unknowing ‘Gerak dan munculnya dosa di dalam diri Anda masih tetap ada.’ Katanya pula, dalam lukisan lain, ‘Betapapun mata, hidung, mulut dibikin lumpuh, bahkan alat vital pun dibikin mati.’ Lalu ke manakah kita, manusia pengembara mesti berziarah?
Para mistikus gemakan Jalan Purgativa. Itulah Jalan Pemurnian jiwa, yang lalu mesti masuk pula dalam Via Illuminativa (Jalan Penerangan), dan akhirnya bermuara dalam alam Via Unitiva (Jalan Persatuan), yang jadi puncak kesempurnaan hidup spiritual. Iya, sekalipun ada akar yang lahirkan kecenderungan untuk berdosa, kita selalu hidup dalam harapan di dalam Tuhan. Perumpamaan Yesus tentang Anak Yang Hilang, tentu bisa dimaknai dalam ‘Via Purgativa, Via Illuminativa dan Via Unitiva’ ketika pada akhirnya si Anak kembali bersatu dengan Ayahnya yang merindukannya kembali (Lukas 15: 11 – 32).
Apakah “Kita mesti telanjang dan benar-benar bersih” adalah Jalan Kerohanian yang selayaknya dilewati? Ini bisa dimaknai dalam alur kontemplatif. Kontemplasi artinya “telanjang.” Iya, “bertelanjang diri di hadapan Tuhan.” Segala yang ada dalam diriku tak tersembunyi. Dan tak ada yang tak terselami. Semua dan segalanya ku tak bebas dari tatapan Yesus Tuhan.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel





