Puasa: Seberapa Jauh “Kita Mesti Telanjang dan Benar-Benar Bersih?”

Sama halnya ketika seseorang ciptakan kesan dalam alur komparasi acak-acak, bahwa ia ‘lebih baik (suci) dari orang lain.’ Atau saat ia yakini diri dalam syukur kepada Yang Kuasa, bahwa “Aku tidak seperti semua  orang lain” (cf Lukas 18: 9-14), toh ia tak bebas sedikit dari akar hidup kecenderungan berdosa.

Iya, siapa pun bisa hembuskan kisah hidup miris tak senonohnya orang lain, sambil harapkan pujian dari pendengar bahwa ‘aku sekali-kali tidak seperti itu!’ Toh, ia pasti tak pernah sanggup bikin mati total akar kecenderungan untuk berdosa. Jika mesti diingat-ingat penuh ketulusan, kejujuran dan kerendahan hati maka akuilah bahwa betapa manusia mudah sekali berkisah tentang ‘ketidakhebatan dan  hitamnya jalan yang dilalui sesamanya.’

Mari kembali ke St Thomas Aquino. Manusia itu menjadi lumpuh akibat dosa, baik dari dosa asal maupun dari dosa pribadi, “akibat dosa itu tetap dan akan tetap ada sampai mati.” Singkat kata, sekali lagi, ‘manusia tak bebas, apalagi bebas murni dan bebas mutlak, dari ‘kecenderungan ke kejahatan, kelekatan yang tak teratur, selera yang tak terkendali, kedambaan, kelengketan dan kelekatan yang tak teratur, serta segala kecenderungan yang melemahkan, dan semuanya itu yang diklaim oleh dunia modern sebagai kecanduan. Akibatnya?

Hidup manusia jadinya samar dalam bayang-bayang. Penuh tanya dan tebalkan sangsi. Hilangkan asa. Lumpuhkan semangat.  ‘Yang dianggap dan terkesan spiritual dan alkitabiah, toh nyata terlihat over-surplus dalam tendensi kejasmaniannya. Jauh dari buah-buah hidup injili, misalnya;  yang penuh dengan khazanah susila dan moral, tentu tak sekian mudah untuk hidup tegar, tegak-lurus dan sedikitpun tak cemar dan lecet dari panduan moral-etis.

Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel