Koalisi pengantar Prabowo – Gibran tentu diharapkan untuk terus berdampak kontribuitif dan konstruktif bersama pemerintah. Semuanya demi peradaban negeri yang semakin bercitra, berwibawa dan maju.
Bagaimana pun…
Tentu, selalu ada kekuatiran sekiranya rumpun Koalisi itu mulai mainkan strategi baru hanya demi ‘income partai’ yang mesti segera menggemuk tambun dari kemenangan itu. Mengimpikan atau bahkan menuntut ‘jatah buat partai dari kemenangan’ tentu bukan menjadi tantangan yang sederhana. Apalagi sekiranya kepentingan nasional, publik bakal ditatap sebelah mata, apalagi terabaikan.
Marilah pula berandai jauh, bahwa sekiranya kelompok ‘prajurit tangguh‘ bakal benar-benar senyap setelah 20 Oktober 2024. Bahwa tugas mengantar Prabowo hingga saat pelantikan telah serius dan penuh komitmen sudah dijalankan.
Apakah sungguh bahwa orang-orang seperti Qodari, Babe Haikal, Habiburokhman, Immanuel Ebenezer serta sekian banyak orang ‘sejenis dan sejiwanya’ bakal ‘senyap’ di ujung cita-cita ‘telah mengantar’ Prabowo hingga hari H pelantikan? Atau, sesungguhnya, tetap ada perhitungan bisnis ekonomik politik di balik semua aksi berjibakutai secara publik di jalur fanatik PRO Prabowo?
Kedua, Bukan kah kemenangan Prabowo – Gibran itu apakah juga adalah kemenangan Jokowi? Sungguh nyata, opini mayoritas tentu mengamininya. Adalah perjuangan yang ‘menderang walau sering disamarkan’ dalam geliat Jokowi untuk memenangkan PraGib.
Namun, yakinlah! Kemenangan ini mesti ditangkap sebagai jembatan buat Jokowi untuk lanjutkan dan muluskan cita-citanya yang masih tersisa atau belum terampungkan.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel




