Menurut Nabit, secara rasio elektrifikasi Manggarai hampir 100 persen. Secara desa, Manggarai sudah 100 persen di angka 96-97 persen. Data yang ada, masih ada 29 dusun dengan 2.221 KK yang belum teraliri listrik (sambungan rumah).
“Kalau kita hanya melihat rasio elektrifikasi ini kita akan mengatakan sudah tidak masalah, sudah cukup. Tidak perlu lagi mengebor di mana-mana. Tapi, di PLN (listrik) itu ada istilah beban puncak, rasio elektrifikasi itu sekedar listrik masuk dalam rumah, asal terhubung saja, asal dapat. Nanti malam begitu ada yang hidupkan TV, hidupkan ricecooker, cas HP dan macam-macam itu akan menurun (redup). Itu artinya sumber (listrik) kita tidak stabil.” Beber Bupati Manggarai, Sabtu.
Ia menambahkan, per Desember 2024, kebutuhan listrik di Manggarai kalau beban puncak yakni biasanya pada malam hari ketika semua orang sudah berada dalam rumah, beban puncak di Manggarai 21 MW. Yang bisa terpenuhi dari PLTP Ulumbu dengan kapasitas 10 MW hanya pada angka 7.5 MW.
“Kebutuhan listrik Kabupaten Manggarai sampai dengan saat ini adalah 13,5 MW sampai dengan 21 MW (beban puncak antara jam 18.00 s/d 22.00) dengan jumlah penduduk 349.836 jiwa atau 103.080 KK. Sementara kapasitas PLTP Ulumbu Existing yang terletak di Desa Wewo hanya 7,5 MW, artinya kita kekurangan 6 MW sampai dengan 13,5 MW untuk kondisi sampai dengan hari ini. Belum kebutuhan untuk 10 tahun kedepan dengan pertumbuhan jumlah penduduk diperkirakan ± 410.000 jiwa dan pertumbuhan sektor ekonomi masyarakat yang membutuhkan daya listrik yang sangat besar.”
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel







