Pohon yang Lupa Akar; Refleksi Krisis Kesadaran Asal-usul

Oleh Aji Priyo Utomo★

infopertama.com – Bagaimana mungkin pohon tumbuh melupakan eksistensi akar? Pertanyaan pemantik ini tampak sederhana, nyaris remeh. Namun di dalamnya tersembunyi kegelisahan besar tentang manusia, masyarakat, dan kekuasaan tentang bagaimana sesuatu bisa menjulang tinggi sambil menyangkal apa yang menopangnya sejak mula.

Secara biologis, pohon tak pernah lupa akar. Akar bekerja diam-diam, dalam kesunyian, tak terlihat bergerak di labirin gelap tanah. Namun justru gerak itulah satu-satunya alasan batang dapat berdiri dan daun mampu menangkap sorot cahaya. Akar tidak tampil, tetapi menentukan.

Dalam dunia manusia, justru sering terjadi sebaliknya. Semakin tinggi seseorang, makin sering ia lupa tanah tempat ia tumbuh. Di situlah tragedi eksistensial bermula.

Akar, secara filosofis, bukan sekadar asal-usul genealogis. Ia adalah simbol fondasi ontologis: keluarga, nilai, sejarah, penderitaan, relasi sosial, dan pengalaman pertama tentang keterbatasan. Martin Heidegger menyebut manusia sebagai makhluk yang “dilempar” ke dunia (Geworfenheit). Kita tidak memilih tempat lahir, bahasa pertama, atau luka awal. Semua itu adalah akar. Tanpa kesadaran akan akar, keberadaan menjadi dangkal tampak kuat, tetapi sesungguhnya rapuh.

Modernitas mengajarkan kita memuja batang dan daun. Kita mengagungkan pencapaian, jabatan, gelar, angka, statistik, dan citra. Yang dipamerkan adalah ketinggian, bukan kedalaman. Akar dianggap kuno: terlalu lambat, terlalu kotor, terlalu dekat dengan tanah. Padahal justru di sanalah nutrisi moral dan eksistensial diserap.

Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel