Namun sejarah berkali-kali mengajarkan: pohon tanpa akar tidak mati karena tinggi, melainkan karena badai. Krisis, konflik, ketidakadilan, dan kemarahan publik adalah angin yang menguji apakah yang berdiri itu benar-benar pohon atau sekadar properti panggung. Mereka yang lupa akar biasanya kaget saat rubuh. Padahal tanda-tandanya sudah lama: kepekaan tumpul, empati menipis, bahasa menjadi teknokratis, dan etika diganti prosedur.
Eksistensi akar bukan nostalgia, bukan sekadar romantisme masa lalu. Ia adalah etika kehadiran: kesediaan untuk terus kembali ke tanah. Mendengar suara yang tak terdengar. Mengakui bahwa kita berdiri di atas kerja orang lain. Menyadari bahwa kekuasaan bukan mahkota, melainkan amanah.
Pohon yang sehat bukan yang paling tinggi, melainkan yang paling setia pada akarnya. Ia boleh menjulang, boleh rimbun, boleh berbuah. Tetapi ia tahu: hidupnya ditentukan oleh sesuatu yang tak pernah ia lihat langsung. Dan justru karena itu, ia tak boleh sombong.
Maka pertanyaan “bagaimana mungkin pohon tumbuh melupakan eksistensi akar?” adalah peringatan. Bukan tentang pohon, melainkan tentang kita. Tentang manusia yang lupa asal-usulnya. Tentang kekuasaan yang lupa mandatnya. Tentang peradaban yang lupa tanah tempat ia berdiri.
Sebab eksistensi tanpa ingatan adalah kesombongan, dan pertumbuhan tanpa akar hanyalah penundaan rubuh.
★Guru SMK Ma’arif 9 Kebumen, Jawa Tengah
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel











