Ketika pohon melupakan akar, yang terjadi adalah alienasi: keterputusan dari diri sendiri, dari sesama, dan dari makna. Bayangkan batang yang menjulang tetapi tak lagi menyapa tanahnya. Ia hidup dari nutrisi yang tak mau diakuinya. Ia memanen hasil dari sesuatu yang ingin ia lupakan.
Dalam konteks kekuasaan, amnesia terhadap akar menjadi jauh lebih berbahaya. Kekuasaan lahir dari mandat, dari kepercayaan, dari penderitaan kolektif yang berharap diwakili. Semua itu adalah akar. Namun ketika kursi sudah empuk, akar sering dianggap beban. Ia tak lagi dilihat sebagai sumber legitimasi, melainkan sebagai gangguan stabilitas. Rakyat diposisikan sebagai angka, bukan wajah. Sejarah dijadikan slogan, bukan pelajaran. Penderitaan masa lalu dijadikan dekorasi pidato, bukan kompas etika.
Akar menuntut kerendahan hati. Ia mengingatkan bahwa tidak ada ketinggian tanpa tanah. Dalam etika Emmanuel Levinas, keberadaan kita selalu ditagih oleh “Yang Lain” oleh wajah yang pertama kali menyapa kita dengan kebutuhan. Etika bukan sekadar aturan, melainkan fondasi keberadaan. Akar adalah wajah pertama itu: ibu, buruh, petani, Pendiri, guru, kawan, orang kecil, dan semua yang memungkinkan kita menjadi “kita”. Melupakan mereka berarti memutus hubungan paling dasar antara eksistensi dan tanggung jawab.
Masyarakat modern sering memproduksi individu seperti pohon plastik: tampak rimbun, hijau, mengilap, tetapi tak punya akar. Ia tak butuh tanah, tak butuh air, tak butuh kesetiaan, ia hanya butuh panggung. Di dunia seperti ini, yang penting bukan lagi dari mana kita berasal, melainkan bagaimana kita tampak. Citra mengalahkan asal-usul. Persepsi mengalahkan kedalaman.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel











