Sekedar satu contoh saja, harga rumah atau kos-kos kontrakan terus melejit, sementara sumber keuangan bagi para mahasiswa atau para karyawan tidak berubah. Dari manakah karyawan-karyawan kecil atau para mahasiswa yang orang tuanya tidak mampu mendapat uang untuk membayar biaya rumah atau kos kontrakan yang begitu mahal? Apakah mereka masih mendapat jalan untuk tinggal dan hidup di bawah naungan atap sebuah rumah atau kos atau biarkan saja tinggal di bawah atap langit yang terbuka. Ini hanya satu contoh. Belum lagi contoh-contoh lain.
Berhadapan dengan ‘kelesuan’ atau ‘kelumpuhan’ hidup seperti ini, amat membutuhkan kabar gembira dan kabar sukacita dari siapa saja. Selain kabar gembira dan kabar sukacita, amat membutuhkan juga perbuatan-perbuatan baik atau usaha-usaha baik untuk menolong. Hanya kabar gembira dan kabar sukacita menjadi kebutuhan manusia dalam kelesuan dan kelumpuhan hidup. Hanya inisiasi-inisiasi yang positif dan hanya perbuatan-perbuatan yang baik merupakan dambaan dan harapan serta jalan untuk mengangkat manusia dari kelesuan dan kelumpuhan hidup.
Oleh sebab itu, kita tidak boleh berhenti untuk mewartakan kabar gembira dan kabar sukacita. Kita juga tidak boleh mundur untuk mencari terobosan-terobosan baru atau usaha-usaha baru untuk mengangkat dan menopang hidup kita sendiri dan hidup orang lain yang lagi tenggelam dalam kelesuan atau kelumpuhan karena persoalan dan kesulitan apa saja, termasuk kesulitan hidup karena pandemi covid 19.


Ketika kita mewartakan kabar sukacita dan melakukan perbuatan dan usaha yang baik bagi diri dan bagi sesama, bisa saja ada orang-orang tertentu, pihak-pihak tertentu atau kelompok tertentu amat jengkel dan marah terhadap kita. Mungkin saja kita ditegur dan diberi peringatan. Kita mungkin direcall atau dipanggil, Kita mungkin dicekal dan diharamkam. Kita mungkin dinonaktifkan atau diPHkan. Atau mungkin kita dibuang dan dipenjarakan, atau bahkan lebih sadis kita disiksa atau dibunuh secara diam-diam.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel






