Tetangga YSA, Suryati, menceritakan, rumah yang YSA dan suaminya, Afriyanto, tempati merupakan milik orang tua Afriyanto. Sehari-hari mereka berjualan makanan dan membuka usaha rental permainan video rumahan.
”Selama saya mengenalnya, perilakunya (YSA) baik-baik saja. Tidak ada yang aneh,” ucapnya.
Helmi, ketua RT di kampung itu, berharap agar aparat penegak hukum dapat menangani kasus tersebut seadil-adilnya. Ia juga berharap kasus serupa tidak terjadi lagi di wilayahnya.

(KOMPAS/HENDRA A SETYAWAN)
Direktur Beranda Perempuan Zubaidah melihat kasus tersebut perlu pendalaman lebih jauh. Ia mendorong agar aparat penegak hukum memberi porsi berimbang, baik kepada para pihak orangtua anak-anak maupun pihak YSA.
”Jangan sampai muncul cap buruk, padahal belum terbukti. Berikanlah ruang untuknya bersuara,” katanya.
Adapun kasus kekerasan seksual merupakan kedua kalinya terjadi di kampung itu. Yang pertama terjadi pada Agustus tahun lalu, seorang bocah berusia 4 tahun dtemukan tewas dalam lubang pembuangan komunal. Hasil pemeriksaan dokter mendapati tanda-tanda luka pada tubuhnya yang mengindikasikan ada kekerasan seksual dan kekerasan fisik. Perkirakan Korban telah meninggal dua hari sebelum penemuan itu. Hingga kini aparat belum berhasil mengungkap pelakunya.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel
Tinggalkan Balasan